KORANLINGGAUPOS.ID - Peristiwa bersejarah yang terjadi pada 9 Februari 1946 merupakan bersatunya tekad wartawan Indonesia untuk ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Ketika itu negara dalam keadaan yang sangat genting.
Lalu, dalam pertemuan bersejarah 9 Februari 1946 itu PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) terbentuk dengan Ketua Mr. Soemanang dan sekretarisnya Soedarjo Tjokrokisworo.
Peristiwa yang menggembirakan dalam dunia pers Indonesia adalah saat kemerdekaan dan keterbukaan media dijamin oleh negara. Dan kini tiap tanggal 9 Februari insan pers memaknainya sebagai Hari Pers Nasional.
Pada Peringatan Hari Pers Nasional tahun 2026 ini, saya mencoba menelisik kembali tentang profesi yang strategis ini. Pers selain menjadi pilar demokrasi, ia juga bekerja menjaga narasi kebangsaan agar tetap hidup.
Profesi ini menyimpan tugas mulia sepanjang peradaban manusia di muka bumi. Dimana tugas menyampaikan kabar dan menulis kabar ini telah diemban oleh orang-orang suci. Yaitu para nabi dan rasul Tuhan. Mereka mewartakan Kalam suci Tuhan dan kabar-kabar langit kepada umat manusia. Baik kabar masa lalu maupun masa depan. Setiap kabar yang dibawa oleh para nabi dan rasul mengandung kabar gembira dan peringatan.
Fakta dan harapan kehidupan manusia ditulis oleh pewarta (sahabat/murid) para Nabi dalam Kitab Suci. Menjadi pandu dan ensiklopedi sejarah yang menavigasi peradaban masa depan.
Seiring perkembangan zaman, tugas menyampaikan kabar dan mencatat peristiwa dilakoni oleh orang-orang yang rela menderita. Merekalah juru tinta, juru warta.
Bila karyanya berupa good news tidak banyak yang mengapresiasi. Namun bila insan media menyajikan bad news, maka sumpah serapah dialamatkan padanya. Sudah jelas resiko membayangi mata. Oplah pun tak sebanding dengan garansinya.
Lihat saja, kasus pembakaran rumah wartawan Tribrata TV di Kab Karo. Yang hingga kini, anak yatim korban keganasan pihak yang namanya disentuh wartawan (korban) masih berjuang mencari keadilan. Dan masih banyak lagi deretan noktah pilu yang mendera para pewarta.
Meski demikian, profesi ini menarik dan diminati oleh banyak orang. Karena mereka yang memilih jalan hidup ini, mesti strugle . Menulis berita adalah tugas mulia, sehingga para pewarta (insan media) mesti sedapat
Wartawan adalah Sejarahwan yang tak putus. Catatan berbagai peristiwa tersusun rapi sebagai sejarah yang pernah terjadi. Siapakah Sejarahwan di dunia ini yang mampu mencatat peristiwa dari waktu ke waktu dalam kehidupan manusia itu? Dialah wartawan. Wartawan menyimpannya setiap dokumen momentum dalam alfabet berderet. Siapa pun boleh menikmati, mendownload dan menggunakan informasinya tak pernah dipungut royalti.