Mendidik Anak Lewat Learning by Doing: Perspektif Psikolog Dra. Yuli Suliswidiawati
Dra. Yuli Suliswidiawati -Foto : Dok. TikTok Dra. Yuli Suliswidiawati-
LUBUK LINGGAU, KORANLINGGAUPOS.ID — Pendidikan anak adalah proses yang tidak pernah diajarkan secara formal di sekolah, namun menjadi pelajaran paling penting dalam kehidupan orangtua.
Banyak keluarga kini menerapkan pendekatan learning by doing belajar sambil menjalani karena setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda.
Menurut Dra. Yuli Suliswidiawati, psikolog klinis anak dan dewasa serta penggagas teknik DEPTH (Deep Psych Tapping Technique), pengasuhan anak bukan sekadar rutinitas, melainkan proses penyembuhan dan pertumbuhan bersama
Ia menekankan bahwa orangtua perlu hadir secara utuh, bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional dan psikologis.
BACA JUGA:Pupuk Rasa Empati, Psikolog Aretha E. Ulitua: Tanamkan Kebiasaan Berbagi Sejak Dini
BACA JUGA:Rahasia Ampuh Hentikan Perilaku Negatif Anak ala Psikolog Azka G. Nabila, M.Psi
Kebanyakan orangtua akan meniru pola asuh yang mereka alami saat kecil. Namun, Yuli mengingatkan bahwa tidak semua gaya parenting masa lalu relevan untuk diterapkan pada anak zaman sekarang.
Ia mendorong orangtua untuk melakukan refleksi dan memilah mana nilai yang masih sesuai, serta mana yang perlu ditinggalkan agar tidak mewariskan luka batin antar generasi.
Melalui teknik DEPTH yang ia kembangkan, Yuli membantu orangtua menyembuhkan trauma masa lalu agar dapat menjalani pengasuhan dengan lebih sadar dan penuh kasih.
Yuli mendukung konsep klasik pengasuhan Indonesia yang mencakup tiga kebutuhan dasar anak Asih, Asah dan Asuh.
BACA JUGA:Anak Sulit Bersosialisasi? Ini 3 Kesalahan Orang Tua Menurut Psikolog Citra Aulia
BACA JUGA:3 Cara Mencegah Perilaku Bullying pada Anak Ala Irma Gustiana A., S.Psi., Psikolog
Ketiga aspek ini, menurut Yuli, harus diberikan secara seimbang agar anak dapat tumbuh secara optimal, baik secara fisik maupun emosional.
Di tengah gempuran teknologi dan media sosial, Yuli sering mengangkat isu seperti kecanduan gadget, anak yang tertarik dengan lawan jenis sejak dini, hingga tekanan emosional dalam rumah tangga.