Kompas Nilai di Tengah Krisis Moral
Chelsia Kherina, Mahasiswi Institut teknologi muhamadiyah sumatera --
Saya merasa prihatin sekaligus tertantang. Politik semestinya menjadi ruang pengabdian yang beradab, bukan arena transaksi.
Sila pertama mengajarkan tanggung jawab kepada Tuhan, sementara sila kedua menuntun kita untuk menjunjung martabat manusia. Jika dua nilai ini benar-benar diterapkan, maka setiap rupiah yang masuk dalam kampanye harus bisa dipertanggungjawabkan secara terbuka.
BACA JUGA:RA Azzahrah Lubuk Linggau, Membentuk Generasi Cerdas dan Bermoral
BACA JUGA:Nobar Film Tepati Janji, Ajak Mahasiswa UNMURA Ambil Pesan Moral
Bagi saya, transparansi dana kampanye bukan hanya soal aturan KPU, tetapi cerminan sejauh mana nilai Pancasila masih hidup dalam hati para pemimpin bangsa. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang jujur dan beradab.
Pancasila tidak hanya sebatas teks bacaan ketika upacara hari senin atau hanya sebagai pajangan warisan dari pejuang di masa lampau. Ia adalah pedoman hidup yang akan tetap relevan untuk menghadapi tantangan zaman. Nilai-nilainya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan berpolitik dan menghargai hak-hak masyarakat serta lainnya.
Saya percaya masa depan bangsa ini tergantung pada seberapa dalam kita memahami Pancasila. Bukan hanya dalam kata, tetapi dalam tindakan. Jika setiap individu menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam dirinya, maka bangsa Indonesia akan tetap berdiri kokoh meski di terpa badai perubahan zaman.
Pancasila bukan masa lalu, tapi arah masa depan yang menuntun kita untuk memajukan bangsa Indonesia ini.