6 Kabupaten di Sumsel Menunjukkan Tingkat Deforestasi Tinggi, Termasuk Muratara
Luas kawasan hutan di Provinsi Sumatera Selatan sekitar 4 juta hektare - Foto: Dok. cdn.rri.co.id-
BACA JUGA:Hari Guru Nasional 2025 : Pelajar SMAN 1 Lubuk Linggau jadi Pemenang I Inovator Provinsi Sumsel
BACA JUGA:PLN UID S2JB Resmikan Bengkel Konversi Motor Listrik Pertama di Sumsel, Dorong Akselerasi Ekosistem
“Kalau hutan rusak, air hujan langsung turun, membawa tanah dari atas ke sungai. Itu sebabnya air bisa berubah cokelat pekat. Itu tanda bahwa hulu sedang rusak,” ungkap Syafrul masih dikutip dari sumateraekspres.id.
Di Sumsel, Sungai Musi juga menjadi indikator penting. Aliran sungai besar ini dan anak-anak sungainya dapat menunjukkan perubahan ekosistem hulu hanya melalui perubahan warna airnya.
Dinas Kehutanan Sumsel mencatat kerusakan hutan (deforestasi) masih menjadi masalah utama.
Berdasarkan analisis citra satelit dan pemantauan lapangan, beberapa kabupaten menunjukkan tingkat deforestasi tinggi. Seperti kabupaten Musi Banyuasin (Muba), OKU Selatan, Ogan Komering Ilir (OKI), Lahat, OKU, Banyuasin dan Muratara.
Deforestasi disebabkan berbagai faktor. Mulai dari illegal logging, perambahan untuk kebun, illegal drilling, hingga pertambangan emas ilegal (PETI). Syafrul juga mengatakan ada juga perusahaan perkebunan yang menanami perkebunan lebih luas dari izin yang mereka miliki. Dan ini juga menjadi tantangan dari dinas kehutanan untuk meminimalisirnya.
BACA JUGA:Bakohumas Sumsel Resmi Dilantik, Bertugas Penyampai Informasi yang Valid Tanpa Provokatif
BACA JUGA:Musi Rawas Jadi Tuan Rumah Pertama Lomba Senam Anak Hebat se-Sumsel 2025
Syafrul mengungkapkan, tekanan terbesar terjadi pada wilayah dengan hutan luas, seperti Muba dan OKI. “Tekanannya tinggi. Ada yang buka lahan untuk kopi, sawit, dan sebagainya. Kalau tidak dikendalikan, habis hutan itu,” tegasnya.
Dinas Kehutunan Sumsel mencatat, luasan area deforestasi yang terdata dalam dua tahun terakhir mencapai 41.100 hektar. Rinciannya, Muba 11.700 hektar, OKU 11.400 hektar, OKI seluas 5.000 hektar, Lahat 4.000 hektar, OKU Selatan 4.000 hektar, Banyuasin 3.000 hektar dan Muratara 2.000 hektar.
Dibanding dengan total kawasan hutan lebih dari 4 juta hektar, angka deforestasi ini tampak kecil secara persentase. Namun jika tidak dikendalikan, peningkatannya dapat mengancam stabilitas ekologis Sumsel dalam beberapa tahun mendatang.
“Tugas berat kami memastikan deforestrasi tidak bertambah,” tegas Syafrul.
Kasi Pengendalian Kerusakan dan Pengamanan Hutan Dinas Kehutanan Sumsel, Ferry menambahkan, pihaknya menerapkan sistem pencegahan yang lebih humanis melalui patroli rutin di wilayah rawan. Bukan hanya mengawasi kawasan, petugas juga menyempatkan diri bertemu warga, kepala desa, hingga tokoh masyarakat untuk memberikan edukasi bahwa kawasan tersebut merupakan area yang tidak boleh dirambah.
BACA JUGA:KORMI dan Dispora Sumsel Dukung Silampari Fun Run Linggau Pos 2026