Lumpur Porong Jadi Wisata Unik, Kunjungan Sebagai Pengingat Jika Alam Sudah Marah
Jalan Masuk untuk menuju destinasi wisata unik lumpur Lapindo Sidoarjo--
KORANLINGGAUPOS.ID - Tepatnya tahun 2006, Porong, Sidoarjo Jawa Timur diguncang tragedi yang membuat Indonesia sontak kaget akibat bencana lumpur.
Porong pun kini berubah wajah, semburan lumpur panas dari pengeboran perusahaan Lapindo meluluhlantakkan Desa Renokenongo dan sekitarnya. Ribuan rumah tenggelam, jalan lumpuh, rel kereta api tak lagi dgunakan dan aktivitas ekonomi semula hidup yang menjadi tumpuan warga Porong mendadak mati.
Porong yang dikenal kawasan padat penduduk dan menjadi sentra ekonomi warga sekitar, seketika berubah menjadi lautan lumpur. Dengan waktu yang terus berlalu dan luka para korban yang hingga kini masih terngiang, namun kini justru mulai tergerus dengan menjadikan wisata unik.
Kawasan yang dulu identik dengan lumpur kini menjadi salah satu destinasi wisata di Sidoarjo dan ini disebut sebagai objek wisata yang unik.
BACA JUGA:Tuan Rumah Porprov Sumsel 2027, Sisi Pariwisata Ini Strategi Promosi Dispar Lubuk Linggau
BACA JUGA:Libur Akhir Tahun 2025 Wisata Air Terjun Temam Lubuk Linggau Bakal Sepi, Pengelola Lakukan Hal Ini
Kenapa tidak lumpur Lapindo menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya, banyak yang berdatangan bukan untuk menikmati keindahan alam, namun karena rasa penasaran terhadap fenomena alam sekaligus tragedi sosial ini.
Wisatawan yang berkunjung biasanya ingin melihat langsung bagaimana semburan lumpur bisa mengubah wajah Porong.
Ada yang datang untuk belajar, ada pula yang sekadar ingin merasakan atmosfer lokasi yang pernah menjadi headline nasional.
Tak sedikit pula yang menjadikan kunjungan ini sebagai ajang refleksi, ini menujukan bahwa rapuhnya kehidupan ketika alam terganggu, dan betapa besar dampak keserakahan manusia terhadap lingkungan.
BACA JUGA:Pesona Alam di Kabupaten Musi Rawas, Magnet Wisata yang Kian Diminati
BACA JUGA:Ini Pilihan Wisata Menarik di Kabupaten Musi Rawas untuk Liburan Akhir Tahun
Selain hamparan lumpur yang masih aktif, pengunjung bisa menemukan berbagai simbol peringatan.
Ada prasasti berisi curahan hati para korban, patung manusia yang seolah tenggelam di lumpur, hingga instalasi seni yang menggambarkan penderitaan warga.