Soto Kudus dengan Kaldu Kerbau yang Identik Warisan dengan Toleransi Beragama
SOTO KUDUS--
KORANLINGGAUPOS.ID – Kota Kudus tentu terngiang dengan kretek, ini merupakan kota santri, dan identik dengan sejarah Islam yakni Sunan Kudus.
Namun dibalik itu ada kuliner terbaik yakni soto Kudus yang merupakan hidangan khas Kudus tentu ini bukan hanya sekadar kuliner tetapi tersimpan sejarah. Sejarah panjang tentang toleransi yang diwariskan sejak berabad-abad lalu dan menjadi kuliner khas Kudus.
Tetapi perlu diketahu, sangat berbeda dengan soto kudus yang sering ditemui di tempat lain, versi otentik soto Kudus ini hadir dengan potongan daging kerbau. Dengan paduan sohun, irisan kol, taoge, taburan seledri, bawang goreng, hingga kacang kedelai dan kuahnya terasa gurih karena dimasak dari kaldu kerbau bercampur rempah pilihan.
Tak ketinggalan, ada topping sate telur puyuh, paru kerbau, atau gorengan yang bikin lidah tak berhenti bergoyang.
BACA JUGA:Perjalanan Soto Banjar Menjadi Kuliner dengan Pengaruh Silang Budaya
BACA JUGA:Main ke Musi Rawas Jangan Lupa Makan Soto Bu Warni Tugumulyo, Murah, Nikmat, dan Legendaris
Namun, di balik kelezatan itu, tersimpan kisah sejarah yang tak kalah menarik. Kudus, yang terletak di pesisir utara Jawa, sejak dulu menjadi jalur strategis penghubung berbagai daerah.
Dari timur ada Pati, Juwana, Rembang, hingga Blora, sementara dari barat ada Jepara dan Semarang.
Posisi ini menjadikan Kudus sebagai simpul penting pergerakan ekonomi dan budaya.
Nama “Kudus” sendiri berasal dari kata Arab Al-Quds yang berarti suci. Sebelum itu, kota ini dikenal dengan nama Loram atau Tajug.
BACA JUGA:Nikmati Kuliner Bakso dan Soto Hits di Bendungan Watervang
BACA JUGA:Soto, Kuliner Sederhana yang Menggugah Selera
Tajug merujuk pada bentuk atap tradisional yang digunakan sebagai tempat ibadah umat Hindu, karena pada masa itu Hindu adalah agama mayoritas.
Perkembangan Islam di Kudus tak lepas dari peran Wali Songo, khususnya Sunan Kudus atau Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan.