Bumbu Kuning Ulat Sagu dari Papua, Proses Kelezatan Dimulai dari 40 Hari
Kuliner Ulat Sagu dengan Bumbu Kuning --
KORANLINGGAUPOS.ID - Ulat Sagu maka di Papua memang tak pernah kehabisan jika untuk kuliner unik yang kaya akan protein tinggi.
Ulat sagu sudah menjadi makanan tradisional yang dipercaya masyarakat Papua yang bisa bikin tubuh tetap sehat dengan kandungan vitamin.
Dan ulat sagu ini menjadi alasan kenapa begitu digemari tentu memberikan manfaat terbaik untuk memenuhi gizi tubuh.
Hewan yang berasal dari batang pohon sagu ini tentu tang telah ditebang dan dibiarkan membusuk.
BACA JUGA:HAB 2026, Kemenag Muratara Bakal Perkenalkan Kuliner Khas Kearifan Lokal
BACA JUGA:Daun Talas Iga Sapi di Gulai Kemba’ang, Kuliner Bengkulu Selatan Memikat Rasa dan Budaya
Dari proses itu, kumbang akan bertelur dan menetas, menghasilkan ulat sagu yang kemudian dikumpulkan.
Biasanya, ulat sagu diambil dari pucuk atau batang sagu berumur 30–40 hari setelah ditebang.
Cara menemukannya pun unik: cukup mendengar suara gerakan di dalam batang, lalu membelahnya, maka ulat sagu akan terlihat di alurnya.
Soal penyajian, masyarakat Papua punya cara khas, ulat sagu sering diolah menyerupai sate hingga bumbu kuning, lalu disantap dengan rasa gurih yang khas.
BACA JUGA:Bertahan Ditengah Gempuran Usaha Kuliner Lubuk Linggau, Kerupuk Ubi Kiki Darmawan Tetap Best Seller
BACA JUGA:Mahasiswa ITMS Hadirkan Aneka Kuliner Lokal di Fun Run Sumsel Bukit Botak 5K 2025
Tak heran kalau hidangan ini disebut “manggia” oleh warga setempat, ini lezat, ulat sagu juga dikenal sebagai sumber protein alami yang baik untuk tubuh.
Tak hanya jadi makanan tradisional, ulat sagu kini mulai dilirik sebagai kuliner eksotis yang menyenangkan sekaligus menyehatkan.