Membangun Kedekatan Konsumen UMKM di 2026

Lanang Diayudha SE, M. Env Mgt Dosen Universitas Bunda Mulia--

KORANLINGGAUPOS.ID - SEMAKIN banyaknya maskot yang kita temui pada brand produk maupun perusahaan jasa, melanjutkan tulisan saya sebelumnya yang membahas tentang penamaan brand dan pentingnya maskot sebagai identitas visual UMKM, di awal tahun 2026 kita melihat lebih jauh bagaimana peran maskot telah berkembang. 

Maskot tidak lagi hanya sekadar simbol atau “lucu-lucuan” di depan toko atau mall, melainkan telah menjadi karakter brand yang hidup dan mampu membangun kedekatan secara emosional dengan konsumen. Kombinasi karakter, warna dan tema yang diusung pada sebuah mascot menjadikan nilai tambah dan kekinian. 

Baru-baru ini sebuah pusat perbelanjaan di Medan, The Plaza Millennium meluncurkan karakter Maskot yang Bernama Mino yang terinspirasi dari seekor Harimau Sumatera.

Dilihat dari perubahan perilaku konsumen dalam beberapa tahun terakhir menjadikan Konsumen tidak hanya membeli produk karena harga atau fungsi semata, tetapi juga karena  kedekatan emosional, pengalaman, dan cerita yang melekat pada sebuah brand. 

 

Di sinilah peran maskot menjadi semakin penting. Maskot yang dirancang dengan baik dapat menjadi “wajah” sekaligus “suara” dari sebuah brand. Bagaimana Disney menciptakan tokoh Mickey Mouse yang hingga saat ini menjadi Icon dari pusat permainan anak-anak terkenal didunia Disneyland. 

Mickey Mouse mewakili nilai, karakter, dan kepribadian usaha yang dijalankan. Ketika konsumen melihat maskot yang konsisten muncul di media sosial baik di Instagram, Tiktok, Facebook dan sebagainya, kemasan produk, banner promosi, hingga event tertentu, secara tidak langsung akan terbentuk ikatan emosional. Maskot tersebut terasa akrab, dikenal, dan bahkan dirindukan. 

Awal tahun 2026 ini, maskot juga tidak bisa dilepaskan dari peran dunia digital. Banyak brand besar maupun UMKM yang mulai menghidupkan maskotnya dalam bentuk konten media sosial, stiker digital yang dapat dicustom, animasi sederhana, hingga karakter virtual yang dapat berinteraksi dengan konsumen. 

Maskot bukan lagi diam, tetapi “bercerita”, menyapa, dan menemani perjalanan konsumen mengenal sebuah produk, bahkan bisa dijadikan sebuah drma operet yang dapat memberikan engage kepada konsumennya. 

 

Perlu pemahaman bahwa membuat sebuah maskot yang efektif bukan berarti harus mahal atau rumit. UMKM justru perlu menekankan kesederhanaan dan konsistensi. Maskot yang sederhana namun memiliki cerita yang kuat akan lebih mudah diingat dibandingkan desain yang kompleks tetapi tidak memiliki makna. Cerita di balik maskot inilah yang menjadi fondasi storytelling brand.

Sebagai contoh, maskot dapat diceritakan sebagai sosok yang merepresentasikan perjuangan awal usaha, nilai kejujuran, keramahan, atau semangat melayani. Cerita tersebut kemudian disampaikan secara konsisten melalui berbagai media. Dengan begitu, konsumen tidak hanya mengenal produk, tetapi juga memahami nilai yang dibawa oleh brand tersebut.

 

Di era Artificial Intelligence (AI), proses pengembangan karakter brand juga semakin terbantu. AI dapat digunakan untuk eksplorasi visual, simulasi karakter, hingga pembuatan konten pendukung. Namun, penting untuk diingat bahwa AI hanyalah alat bantu. Keputusan akhir tetap harus mempertimbangkan nilai lokal, budaya, serta karakter target pasar UMKM itu sendiri.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan