Disdik Musi Rawas Susun Skema Regrouping SD Minim Siswa
melalui Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Musi Rawas, Johan Juanda Yudistira, M.Pd, -Foto : Mukmin / Harian Pagi Linggau Pos-
MUSI RAWAS, KORANLINGGAUPOS.ID - Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Musi Rawas (Mura) tengah menyusun skema regrouping atau penggabungan sejumlah Sekolah Dasar (SD) yang memiliki jumlah siswa sangat sedikit ke dalam satu sekolah. Hal ini dilalkukan lantaran dinilai lebih layak dan efisien.
Kepala Disdik Musi Rawas, Dr. Dien Candra, S.H., M.H., melalui Sekretaris, Johan Juanda Yudistira, M.Pd, menjelaskan mekanisme regrouping saat ini berbeda dengan sebelumnya. Jika d ulu pemerintah daerah dapat langsung melakukan penggabungan sekolah, kini proses tersebut harus melalui Kementrian Pendidikan langsung dan melalui analisi dari perguruan Tinggi.
“Sekarang regrouping tidak bisa langsung dilakukan oleh pemerintah daerah. Harus ada analisis dari perguruan tinggi. Saat ini kami sudah bekerja sama dengan Unpari PGRI, dan proses analisisnya sedang berjalan,” jelas Johan.
Hasil analisis tersebut nantinya akan menjadi dasar pengusulan ke kementerian. Pemerintah daerah hanya mengajukan regrouping berdasarkan rekomendasi hasil kajian akademik tersebut.
“Pemerintah pusat ingin memastikan kebijakan regrouping ini benar-benar dianalisis secara komprehensif, termasuk dampak dan kepentingannya. Jadi tidak bisa lagi langsung diusulkan tanpa kajian,” tegasnya.
Johan mengungkapkan, wilayah dengan jumlah sekolah yang cukup banyak dan memiliki siswa minim, seperti di Kecamatan Tugumulyo, menjadi salah satu yang masuk dalam kajian. Selain jumlah siswa yang sedikit, faktor jarak antar sekolah serta lokasi sekolah yang berada dalam satu kompleks juga menjadi pertimbangan utama.
“Kalau sekolah-sekolah itu berada dalam satu kompleks dan jumlah siswanya sedikit, itu cenderung bisa diregrouping,” jelasnya.
Ia menambahkan, standar jumlah siswa per kelas juga menjadi acuan. Untuk jenjang SD, idealnya satu kelas berisi sekitar 28 siswa, sementara di Musi Rawas saat ini masih ada kelas dengan jumlah siswa jauh di bawah standar tersebut.
Selain itu, regrouping juga mempertimbangkan kondisi tenaga pendidik. Johan menegaskan bahwa persoalan saat ini bukan kekurangan guru, melainkan justru penumpukan tenaga pendidik di sekolah-sekolah dengan jumlah siswa sedikit.
“Tujuan regrouping ini agar kelas menjadi lebih ideal dan guru tetap bisa mengajar secara optimal,” tegasnya.
Untuk tahap awal, kebijakan regrouping ini difokuskan pada jenjang Sekolah Dasar dan masih menunggu hasil akhir analisis dari perguruan tinggi sebelum diajukan ke kementerian.