Musim Hujan Hasil Produksi Ayam Petelur di Musi Rawas Berkurang
Ayam-ayam petelur milik Miswanto warga Dusun V Desa Mataram, Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas. -Foto : Dok. Pribadi-
MUSI RAWAS, KORANLINGGAUPOS.ID – Musim penghujan seperti saat ini, menjadi tantangan tersendiri bagi peternak ayam petelur di Kabupaten Musi Rawas (Mura). Dengan kondisi kandang yang lembab akibat intensitas hujan yang tinggi, menimbulkan berbagai penyakit pada hewan ternak tersebut.
Selain dapat menimbulkan banyak penyakit, kondisi cuaca seperti ini dapat memicu penurunan produksi telur. Karena ayam petelur rentan terserang penyakit, terutama kebersihan kandang sulit kering selama musim hujan.
Miswanto, peternak ayam petelur warga Dusun V Desa Mataram saat dibincangi KORANLINGGAUPOS.ID, perawatan ketika musim hujan harus ekstra. Pemberian obat dan desinfektan lebih sering lengah tak memberi desinfektan berpotensi ayam terganggu pencernaan dan penyakit pernapasan atau ngorok (Cdr).
"Ayam rawan stres akibat cuaca tidak mendukung seperti sekarang, kadang hujan, kadang panas. Akibatnya produksi telur menjadi menurun," ungkapnya kepada KORANLINGGAUPOS.ID, Jumat 9 Januari 2026.
Karena usaha ini masih skala rumahan, jadi untuk ayam yang diternak masih berjumlah 125 ekor, itupun belum semuanya sudah produksi.
"Biasanya dalam sehari produksi telur sekitar 40-50 butir, namun dengan kondisi seperti saat produksi nya menurun drastis yakni hanya 20 butir telur saja.
Hal tersebut disebabkan oleh perubahan suhu dan kebisingan hujan membuat ayam rawan stres. Terdapat beberapa penyakit ternak menyerang ketika musim hujan. Untuk ayam, rentan penyakit jamur menyerang tubuh karena lembab.
Seiring penurunan imunitas saat pancaroba. Ayam akan mengalami kesulitan nafas dan bengkak pada area kepala serta penurunan nafsu makan Selain itu, colibacillosis mengakibatkan ayam mengalami turun nafsu makan dan lemas.
Untuk penanganannya selain menjaga kebersihan kandang dan sering cuci bersih alat minum kandang. Serta rutin melakukan penyemprotan menggunakan MP4. Sebagai pencegahan kami melakukan memberikan multivitamin dan jaga kebersihan kandang.
"Dengan adanya penurunan produksi telur ayam, tentunya kami tidak bisa memenuhi pesanan dari konsumen yang selama ini mengambil telur ayam dari kami. Biasanya kami dalam sehari bisa menjual 40-45 butir telur, saat ini hanya mampu menjual sekitar 20 butir saja dengan harga per karpetnya Rp 55.000," ungkapnya.
Ia berharap, ayam ini dapat kembali pulih dan kembali normal produksi telurnya, dengan begitu semua pesanan dari konsumen dapat kembali terpenuhi.