Langkah Kecil, Makna Besar bagi Lansia
Jangan sekali-sekali meremehkan keberadaan hidup sesama mahluk Tuhan, hanya karena kelansiaannya--
KORANLINGGAUPOS.ID - Sederet karakteristik dan atribut terhadap lansia sebenarnya adalah rekapitulasi dari sekian banyak sisi kelemahan ekstrem yang kebetulan ditemukan secara acak pada sejumlah besar populasi orang usia lanjut.
Bila dicermati secara kritis dan jernih, serentetan karakteristik yang serba ”minor” tersebut, kenyataannya tidak mesti terjadi pada setiap orang yang telah memasuki lansia.
Maka salah bila sederet karakteristik yang direkapitulasi dari sekian banyak jumlah orang lansia itu, ”dilekatkan” pada setiap orang yang telah memasuki kategori lansia.
Dalam banyak kasus di masyarakat kita, seringkali kaum lansia dengan cepat mengalami proses regresi, menurun kemampuan wicara dan kognitifnya, menjadi tidak produktif, dan tenggelam dalam kesendirian akibat perlakuan-perlakuan yang serba dibatasi, diasingkan dari lingkungan minatnya, diblokir aksesnya di banyak lini. Faktanya, yang cukup banyak berperan dalam memperlakukan kaum lansia secara ”tidak berperasaan” adalah orang-orang yang seharusnya mendukungnya: anak darah dagingnya, keluarga, kolega kerja, atasan dilingkungan komunitas primer dari sang lansia itu sendiri.
Meruyaknya sikap dan perlakuan menggeser, serba membatasi, dan menggusur kaum lansia dari panggung kehidupan yang sekilas terbaca dipengaruhi oleh mitos di masyarakat mengenai kaum lansia.
Boleh jadi semua yang terjadi itu digerakkan oleh dua hal yang mengeram di ruang batin banyak orang, khususnya kita yang masih berstatus sebagai kaum muda.
Pertama, sikap terlalu mengagungkan nilai ekonomi material, yang secara psikologis berdampak pada obsesi berlebihan untuk senantiasa menggenjot tercapainya produksi sebanyak-banyaknya dalam semua aspek kehidupan.
Maka, bila orang dipandang sudah kurang/tidak mampu lagi berproduksi menurut standar yang dikehendaki (sebagaimana ditengarai terjadi pada kaum lansia), dia harus digusur dari dunia kebersamaan kancah produksi.
Kedua, ketakutan akan bayangan datangnya kematian. Orang-orang yang berusia lanjut, secara simbolik mewakili bayangan semakin dekatnya sergapan kematian.
Bila ada dari kita merasa kadang bersikap dan memperlakukan kaum lansia dengan kurang atau tidak ”berperasaan”, marilah belajar untuk bersikap dan bertindak dengan penuh respek, mendukung dan bersedia memberikan ruang kebebasan bagi kiprah, pertumbuhan dan keberadaan mereka dalam kehidupan bersama. Jangan sekali-sekali meremehkan keberadaan hidup sesama mahluk Tuhan, hanya karena kelansiaannya.
#pedulilansia #lansiaberdaya #SIDAYA.