Usaha Kue Tradisional Homemade Turun-Temurun Tetap Bertahan di Tengah Persaingan di Lubuk Linggau

Lokasi berjualan yang berada di pinggir jalan dekat rel kereta api atau di Terminal Lama Pasar Inpres, Jalan Bukit Sulap, Kelurahan Dempo, Kecamatan Lubuk Linggau Timur II, Kota Lubuklinggau, Sumsel --

LUBUK LINGGAU, KORANLINGGAUPOS.ID - Di tengah maraknya jajanan modern dan kue instan, usaha kue tradisional homemade milik keluarga Ibu Yuli tetap bertahan dan menjadi pilihan masyarakat. Berjualan di Terminal Lama Pasar Inpres, Jalan Bukit Sulap, Kelurahan Dempo, Kecamatan Lubuk Linggau Timur II, Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, usaha ini dikenal luas karena cita rasanya yang khas, segar, dan dibuat dengan bahan pilihan.

Usaha kue tradisional ini dijalankan secara turun-temurun. Menurut Nanda, selaku penjual yang merupakan anak dari Ibu Yuli, usaha ini telah ada sejak tahun 1993 dan pertama kali dijalankan oleh kakak tertua dalam keluarga. Resep dan cara pembuatannya diwariskan dari nenek hingga ke generasi sekarang, sehingga rasa kue tetap terjaga dan konsisten dari waktu ke waktu.

“Semua kue kami buat sendiri, istilahnya buat dewek. Tidak ada yang kami ambil dari luar. Setiap hari pasti baru dan pakai gula asli,” jelasnya saat diwawancarai oleh wartawan KORANLINGGAUPOS. ID Selasa 4 Februari 2026.

Proses pembuatan kue dimulai sejak pukul 09.00 pagi dan selesai sekitar pukul 16.00 sore. Setelah itu, kue langsung dijual mulai pukul 16.00 hingga malam hari, biasanya sekitar pukul 21.00 hingga 22.00 WIB, atau sampai habis terjual. Bahkan tidak jarang, kue sudah ludes terjual sejak pukul 18.00 sore.

 

Beragam jenis kue tradisional tersedia di lapak ini, mulai dari talam, dadar bulung, bugis, nagasari, lemper, klepon, bubur, agar-agar, hingga lupis. Harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau, berkisar antara Rp 4.000 hingga Rp 5.000/buah untuk sebagian besar kue. Sementara bubur dan agar-agar dijual seharga Rp 3.000, dan lupis hanya Rp 2.000/buah.

Memasuki bulan Ramadan, penjualan biasanya mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Selain menu harian, penjual menambah variasi kue seperti serabi, kue putu, pempek lengkap, hingga lemang batangan. Harga tetap ramah di kantong, berkisar antara Rp 4.000 hingga Rp 5.000, sehingga sangat diminati masyarakat untuk menu berbuka puasa.

Lokasi berjualan yang berada di pinggir jalan, dekat rel kereta api, membuat lapak ini sangat mudah ditemukan. Terlebih saat Ramadan, kawasan Terminal Lama Pasar Inpres menjadi salah satu tujuan favorit warga untuk mencari takjil menjelang waktu berbuka.

Selain Ramadan, lonjakan pesanan juga terjadi pada Bulan Rua dan menjelang Hari Bantai atau Lebaran. Pada momen tersebut, Ia juga mengaku bisa menerima pesanan hingga puluhan buah per jenis kue, bahkan mencapai 50–50 buah. Kue seperti lemper, klepon, talam, dan bugis menjadi favorit pelanggan karena dapat bertahan hingga tiga hari jika disimpan di dalam kulkas.

 

Untuk sistem pemesanan, pembeli biasanya datang langsung ke lokasi untuk mencicipi dan mengambil nomor kontak. Selanjutnya, pemesanan dilakukan melalui WhatsApp, terutama untuk kebutuhan acara seperti pesta, hajatan, atau kegiatan keluarga. Menariknya, untuk pesanan dalam jumlah besar, penjual tidak memberikan potongan harga, melainkan bonus tambahan kue sebagai bentuk apresiasi kepada pelanggan.

“Kalau pesan banyak, biasanya kami tambah kuenya. Bukan diskon, tapi bonus. Biar pelanggan senang dan tetap balik lagi,” jelasnya

Meski persaingan usaha kue semakin ketat, Nnda dan keluarganya tetap yakin usaha ini masih layak dan “worth it” untuk dijalankan. Mereka menegaskan bahwa kunci utama bertahan hingga puluhan tahun adalah menjaga kualitas rasa dan kesegaran produk.

“Banyak yang jual kue juga, tapi kami percaya sama rasa. Selama rasanya dijaga, pelanggan pasti tetap ada,” tutupnya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan