Jelang Lebaran Harga Daging Sapi di Pasar Moneng Diperkirakan Tembus Rp 160.000 Per Kg
Daging Sapi laris manis ludes tinggal tulang. Harga Daging Sapi di Pasar Moneng tembus Rp 160.000. --
KORANLINGGAUPOS.ID - Aktivitas jual beli di Pasar Moneng Sepati yang beralamat di Jalan Yos Sudarso No.222, Kelurahan Taba Pingin, Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuklinggau, tampak lebih sibuk dari biasanya.
Sejak pukul 05.00 WIB, para pedagang daging sapi sudah membuka lapak. Namun, belum sampai pukul 09.00 WIB, sebagian besar daging yang digantung rapi di meja potong sudah habis terjual.
“Kalau mendekati Lebaran memang cepat habis. Kadang jam sembilan itu tinggal tulang saja,” ujar Vina salah satu pedagang daging sapi saat ditemui oleh wartawan KORANLINGGAUPOS.ID Selasa 3 Maret 2026.
Ia menjelaskan, harga normal daging sapi kualitas super di Pasar Moneng berada di angka Rp 140.000 per kilogram.
Namun menjelang Hari Raya Idulfitri, harga bisa melonjak hingga Rp 160.000 per kilogram.
“Kalau hari biasa Rp 140.000. Paling rendah itu Rp 130.000 sampai Rp 135.000 per kilo. Tidak ada yang Rp 120.000. Harga segitu sudah sesuai dengan kualitasnya, ini daging super,” tegasnya.
Menurutnya, kenaikan harga daging sapi menjelang Lebaran sudah menjadi pola tahunan. Meski naik, harga biasanya kembali normal setelah momen hari raya berlalu, tanpa mengalami penurunan drastis.
“Setelah Lebaran ya balik lagi ke harga biasa. Tidak turun lebih rendah lagi,” tambahnya.
Tak hanya daging, tulang sapi juga banyak dicari pembeli untuk kebutuhan masakan berkuah seperti sop dan gulai. Harga tulang bervariasi, mulai dari Rp 90.000 hingga Rp 120.000 per kilogram untuk kualitas terbaik.
Menariknya, saat daging habis lebih dulu, tulang justru tetap menjadi incaran pembeli yang datang belakangan.
Pedagang mengungkapkan, pasokan sapi untuk wilayah Lubuklinggau selama ini berasal dari Lampung melalui perusahaan pemasok.
Namun, belakangan muncul kekhawatiran terkait isu “MBG” yang disebut-sebut sebagai pemasok besar atau pusat distribusi yang mengalami kendala. Kondisi tersebut dinilai berdampak pada terbatasnya stok daging sapi di wilayah Linggau.