Baju Baru atau Ta’at yang Bertambah?

Ustadz Febry Eraz Chaniago -Foto: Dok. Linggau Pos-

KORANLINGGAUPOS.ID - Setiap kali menjelang lebaran, khususnya idul fitri, ada kebiasaan mayoritas masyarakat kita, yaitu mengenakan serba baru, dari mulai baju baru, celana baru, sendal baru, uang baru, bahkan rambut pun seakan di paksa harus sudah dalam keadaan dicukur, kendaraan sudah dalam keadaan tercuci, begitulah nampaknya fenomena yang berulang disetiap lebaran akan tiba.

Dalam ceramahnya, Ustadz Febry Eraz Chaniago menegaskan bahwa menggunakan pakaian terbaik saat hari raya memang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Namun, ia mengingatkan bahwa pakaian terbaik tidak harus selalu baru. 

"Pada dasarnya, sah sah saja jika seseorang ingin menggunakan pakaian terbaiknya pada saat hari raya, karena memang Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita untuk menggunakan pakaian terbaik saat akan menghadapi hari raya atau hari Jum’at," ungkapnya.

Namun dilanjutkannya, yang perlu digarisbawahi adalah, perintah Nabi untuk menggunakan pakaian terbaik itu tidak mesti baru, ada yang baru ya disyukuri Alhamdulillah, jika tak ada pun jangan dipaksa.

 

"Karena hari Idul Fitri yang sesungguhnya adalah bukan siapa yang pakaiannya baru, akan tetapi siapa yang bertambah ta’at setelah menjalankan ibadah sebulan penuh, hari Idul Fitri yang sesungguhnya adalah dia yang dosa dosanya diampuni meski tidak sempat untuk mencuci kendaraannya atau mencukur rambutnya," disampaikannya.

Ia melanjutkan, Islam mengajarkan kita untuk menjaga penampilan lahiriah, Rasulullah adalah orang yang paling menjaga penampilannya, tercatat dalam hadis bahwa Nabi menggunakan minyak wangi, memakai siwak atau sikat gigi, memakai minyak rambut, itu semua menunjukkan bahwa Nabi adalah orang yang menjaga penampilan lahiriah, tapi penampilan lahiriah juga harus didukung dengan penampilan bathiniah, yaitu menjaga hati agar tetap suci di hari nan fitri, menjaga eksistensi ketaqwaan, karena memang sedari awal perintah puasa adalah agar menjadikan diri semakin bertakwa.

"Jika menggunakan serba baru itu dalam kerangka syukur kepada Allah maka hal tersebut tidaklah mengapa, namun yang menjadi masalah adalah pergeseran dari rasa syukur menjadi ajang pamer, menjadi ajang gengsi, apalagi sampai berlebih lebihan, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih lebihan dan melampaui batas," tegasnya.

Rasulullah dalam hadisnya mengatakan  “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian."

 

"Ini menunjukkan bahwa ada yang lebih penting dari sekedar serba baru, yaitu hati yang semakin bersih, amal yang semakin ikhlas dan semakin sesuai dengan petunjuk agama, lebaran sejatinya adalah kembali kepada fitrah (kembali suci)," jelasnya.

Jika ada yang harus baru disampaikannya, maka yang harus baru adalah kesabaran dalam ibadah, sebagaimana sabarnya kita menunngu waktu maghrib datang selama berpuasa, jika ada yang harus baru maka yang harus diperbaharui adalah rasa cinta kita terhadap Al-Quran dengan terus membacanya meskipun sudah tidak lagi berada di bulan Ramadhan, jika harus ada yang diperbaharui, maka yang kita perbaharui adalah kualitas ibadah kita kepada Allah, teruslah menjadi manusia dengan versi terbaik sebagaimana kita berada di bulan Ramadhan.

"Kalau hanya mengandalkan baju baru, maka yang kita banggakan itu pada akhirnya akan usang. Warna yang hari ini cerah akan pudar, kain yang hari ini rapi akan lusuh. Tren yang sekarang dielu-elukan, suatu saat akan ditinggalkan," ungkapnya.

Dilanjutkannya, mode selalu berubah, selera selalu berganti, dan apa yang dianggap indah hari ini bisa jadi dianggap biasa saja esok hari.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan