Petani Musi Rawas Optimistis Tanam Jagung, Harga Diharap Stabil
Agus, warga Desa Wonokerto, Kabupaten Musi Rawas, saat melakukan pemupukan tanaman jagung miliknya yang saat ini berusia sekitar satu bulan di lahan pertaniannya.--
KORANLINGGAUPOS.ID - Jagung merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan sektor pertanian, sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.
Laporan Mukmin, Musi Rawas
KOMODITAS ini juga menjadi salah satu tanaman unggulan yang banyak dibudidayakan petani di Kabupaten Musi Rawas karena didukung oleh lahan pertanian yang cukup luas.
Di Kabupaten Musi Rawas sendiri, sektor pertanian masih menjadi salah satu mata pencaharian utama masyarakat. Selain padi, banyak petani yang mulai mengembangkan tanaman jagung karena dinilai memiliki peluang hasil yang cukup baik.
Salah satunya adalah Agus, petani asal Desa Wonokerto, yang sudah beberapa tahun terakhir menanam jagung di lahannya. Ia mengaku sebelumnya sempat mencoba menanam terong lalap, namun usaha tersebut kurang berhasil karena serangan hama tikus yang cukup tinggi.
“Dulu sempat tanam terong lalap, tapi banyak diserang tikus. Akhirnya saya mencoba menanam jagung,” ungkap Agus.
Ia menjelaskan, untuk budidaya jagung saat ini dirinya memilih menggunakan bibit jenis Nusantara Raja. Bibit tersebut dipilih karena sebelumnya pernah ia tanam di lokasi lain dan menghasilkan panen yang cukup baik.
Saat ini Agus menanam jagung di lahan seluas sekitar seperempat hektare. Pada masa panen sebelumnya, dari luas lahan tersebut ia berhasil mendapatkan hasil lebih dari 1 ton jagung dengan harga jual sekitar Rp5.600 per kilogram.
“Panen kemarin dapat lebih dari satu ton. Waktu itu harga jagung sekitar Rp5.600 per kilogram,” jelasnya.
Untuk musim tanam kali ini, tanaman jagung yang ia tanam sudah berusia sekitar satu bulan. Saat ini dirinya sedang melakukan proses pemupukan tahap kedua guna mendukung pertumbuhan tanaman agar hasil panen maksimal.
Pemupukan kedua tersebut dilakukan dengan menggunakan pupuk urea dan juga pupuk Phonska. Menurut Agus, selama masa
tanam hingga panen biasanya ia menggunakan hampir 100 kilogram pupuk urea yang ditambah sekitar 5 kilogram pupuk NPK.