Berburu Ikan Salai di Bulan Ramadan, Dagangan Tradisional Ini Tetap Diburu Warga Lubuk Linggau
Pedagang Ikan Salai di Pasar Inpres Lubuk Linggau - FOTO: FOK. PUTRI ANANDA-
KORANLINGGAUPOS.ID - Suasana pasar tradisional di kawasan Lubuk Linggau tampak ramai menjelang waktu berbuka puasa. Di antara deretan lapak yang berjejer di Pasar Inpres Lubuk Linggau, salah satu yang cukup menarik perhatian pembeli adalah lapak penjual ikan salai.
Aroma khas ikan asap langsung tercium dari tumpukan ikan berwarna kecokelatan yang tersusun rapi di atas meja dagangan. Berbagai jenis ikan salai tampak dipajang, mulai dari ukuran kecil hingga besar, yang menjadi pilihan masyarakat untuk menu sahur maupun berbuka selama bulan Ramadan.
Penjual ikan salai di lapak tersebut mengatakan, dagangannya berasal dari hasil produksi sendiri yang dibuat secara tradisional di daerah Ceremeh. Proses pembuatannya masih menggunakan cara turun-temurun agar cita rasa khas ikan salai tetap terjaga.
“Ikan segar dibersihkan dulu, kemudian dibelah dan diberi sedikit garam. Setelah itu baru diasapi menggunakan kayu selama beberapa jam sampai kering dan berwarna cokelat kehitaman,” jelas Tina saat ditemui oleh wartawan KORANLINGGAUPOS.ID Kamis 12 Maret 2026.
Menurutnya, proses pengasapan ini tidak hanya memberikan aroma khas, tetapi juga membuat ikan lebih awet sehingga bisa disimpan lebih lama, bahkan beberapa hari tanpa harus langsung dimasak.
Di lapak tersebut tersedia berbagai jenis ikan salai yang cukup dikenal masyarakat, di antaranya ikan salai baung dengan harga Rp 140.000 per kilogram, baung lipat Rp 120.000 per kilogram, ikan salai lais Rp 440.000 per kilogram, baung sungai Rp 270.000 per kilogram, serta ikan salai patin Rp 100.000 per kilogram.
Dari beberapa jenis tersebut, ikan salai baung sungai menjadi salah satu yang paling banyak dicari pembeli. Selain rasanya gurih, harganya juga dianggap masih cukup terjangkau dibanding jenis lainnya.
“Yang paling laris biasanya baung sungai, karena harganya masih bisa dijangkau banyak orang,” katanya.
Meski begitu, bagi penikmat rasa, ikan salai lais disebut sebagai yang paling lezat. Teksturnya yang lembut serta aroma asap yang kuat membuat ikan ini memiliki penggemar tersendiri, walaupun harganya jauh lebih tinggi dibanding jenis lainnya.
“Kalau yang paling enak sebenarnya lais. Memang mahal, tapi rasanya lebih gurih,” tambahnya.
Ikan salai sendiri dikenal sebagai bahan masakan yang cukup fleksibel. Masyarakat biasanya mengolahnya menjadi berbagai menu khas rumahan seperti gulai ikan salai, sambal ikan salai, tumis cabai hijau, hingga dimasak dengan santan dan rempah-rempah yang kaya rasa. Hidangan ini sering menjadi pilihan lauk praktis saat Ramadan karena proses memasaknya relatif cepat.
Salah seorang pembeli yang sedang memilih ikan salai baung sungai mengatakan dirinya sengaja datang ke pasar untuk membeli persediaan lauk berbuka.