SDN Muara Nilau Musi Rawas Jadikan Pesantren Kilat Wadah Pembentukan Karakter
Suasana Pesantren Kilat di SDN Muara Nilau Musi Rawas sebagai bagian dari rangkaian pembelajaran di bulan Ramadhan. - Foto : Dok. Linggau Pos-
KORANLINGGAUPOS.ID - SD Negeri Muara Nilau menggelar kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat) sebagai bagian dari rangkaian pembelajaran di bulan Ramadhan.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang memperdalam ilmu agama, tetapi juga diarahkan sebagai wadah pembentukan karakter siswa.
Kepala SDN Muara Nilau, Yean Chris Tien, S.Pd, menegaskan bahwa pesantren kilat di sekolahnya memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia dan religius.
Menurut Yean Chris Tien, pesantren kilat bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan sebuah program yang dirancang untuk memberikan pengalaman spiritual yang mendalam bagi siswa.
Melalui kegiatan ini, siswa diajak untuk memahami nilai-nilai keislaman, memperkuat moralitas, serta menumbuhkan sikap disiplin dan tanggung jawab.
“Sanlat di SDN Muara Nilau kami jadikan sebagai wadah pembentukan karakter. Anak-anak tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an atau mendengarkan ceramah, tetapi juga dilatih untuk mengamalkan nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Kepala sekolah menekankan bahwa kegiatan pesantren kilat harus terus ditingkatkan kualitasnya agar relevan dengan perkembangan zaman. Harapan utama yang disampaikan adalah agar pesantren kilat mampu memberikan dampak spiritual dan karakter yang berkelanjutan bagi siswa.
Yean Chris Tien menuturkan, “Harapan kami, pesantren kilat tidak hanya dipandang sebagai kegiatan Ramadhan semata, tetapi benar-benar menjadi sarana pembentukan karakter religius, moralitas (akhlaqul karimah), dan peningkatan spiritualitas siswa secara berkelanjutan.”
Program ini diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai akhlaqul karimah sejak dini. Dengan pembiasaan ibadah, pembelajaran akhlak, serta kegiatan sosial yang terintegrasi, siswa diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat dan berlandaskan nilai-nilai agama.
Selain itu, pesantren kilat juga menjadi sarana mempererat kebersamaan antar siswa dan guru. Melalui kegiatan bersama seperti shalat berjamaah, tadarus, dan diskusi keagamaan, tercipta suasana kekeluargaan yang mendukung proses pembelajaran karakter.
Yean Chris Tien menekankan pentingnya inovasi dalam penyelenggaraan pesantren kilat. Materi dan metode pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan generasi saat ini, yang hidup di era digital. Dengan pendekatan kreatif, pesantren kilat dapat menjadi lebih menarik dan bermakna bagi siswa.
“Pesantren kilat harus mampu menjawab tantangan zaman. Anak-anak sekarang hidup di era teknologi, sehingga metode pembelajaran harus dikemas lebih interaktif agar pesan yang disampaikan benar-benar mengena,” tambahnya.