Ustadz Ghufron : Istiqomah Ibadah Saat Ramadhan Berbuah Karomah
Ketua PD Muhammadiyah Musi Rawas, Ghufron--
MUSI RAWAS, KORANLINGGAUPOS.ID – Bulan Ramadan menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah serta memperbanyak amal kebaikan. Dalam menjalani bulan suci ini, sikap istiqomah atau konsisten dalam berbuat baik menjadi kunci utama untuk meraih keberkahan dan rahmat dari Allah SWT.
Ketua Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Musi Rawas, Ghufron, menyampaikan bahwa istiqomah merupakan sikap teguh dalam menjalankan kebaikan dan tetap berada di jalan yang benar tanpa mudah menyerah.
Menurutnya, di bulan Ramadan sikap istiqomah dapat diwujudkan dengan menjaga shalat lima waktu, memperbanyak membaca Al-Qur’an, bersedekah, menahan diri dari perbuatan yang tidak baik, serta menjaga lisan dan hati.
“Istiqomah berarti tetap berada di jalan yang benar dan terus melakukan kebaikan tanpa mudah menyerah atau berhenti,” ujarnya.
Ia juga mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Fushilat ayat 30–31 yang menjelaskan keutamaan bagi orang-orang yang istiqomah.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa bersedih; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula apa yang kamu minta’,” bunyi ayat tersebut.
Ghufron menjelaskan, sikap istiqomah yang dijalani dengan penuh keikhlasan sering kali menghadirkan karomah atau kemuliaan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya.
Ia juga menyampaikan kisah yang ditulis oleh Ustadz Ahmad Amin, seorang pakar matematika dan fisika asal Irak pada tahun 1390 Hijriah.
Dalam kisah tersebut diceritakan seorang wanita muda bernama Marry Powels yang lahir dalam kondisi lumpuh sehingga tidak mampu berjalan. Suatu hari seorang pria tetangganya datang melamar dirinya. Kabar tersebut membuat Marry sangat bahagia dan ia segera memberitahukannya kepada ibunya.
Namun sang ibu justru menangis karena para dokter sebelumnya menyatakan bahwa jika Marry menikah pun, ia tidak akan dapat memiliki anak.
Meski demikian, Marry tetap yakin kepada kekuasaan Allah. Ia mengatakan bahwa jika pernikahan itu terjadi, setiap malam ia akan melaksanakan shalat hajat dan memohon kepada Allah agar dikaruniai seorang anak.
Setelah pernikahan berlangsung, Marry pun istiqomah melaksanakan shalat malam dan bermunajat kepada Allah dengan penuh harap dan air mata. Ia berdoa agar Allah memberikan karunia sebagaimana wanita lain yang mampu berjalan dan melahirkan anak.