Hasil Ukur Kualitas Udara, Kadar CO Cukup Tinggi. Ini Diduga Penyebab Satu Keluarga Alami Keracunan

Tim Laboratorium dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Musi Rawas (Mura), Candra mengungkapkan hasil ukur kualitas udara dirumah korban dan hasil ukur gas buang genset yang ada, yang menyebabkan satu keluarga diduga keracunan asap dan dua diantaran- Foto : Rina Maris/Linggau Pos-
MUSI RAWAS, KORANLINGGAUPOS.ID - Tim Laboratorium dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Musi Rawas (Mura) langsung melakukan pengukuran kualitas udara di rumah korban, yang diduga keracunan asap genset. Hasilnya pun cukup mengejutkan.
Mewakili tim laboratorium LH, Candra menjelaskan, pihaknya sendiri mendapat informasi kejadian tersebut setelah magrib.
Mereka pun langsung menyiapkan alat untuk pengukuran kualitas udara. Pukul 20.15 wib mereka tiba di TKP, lalu langsung memasang alat untuk mengukur.
"Pengukuran kualitas udara pun kita mulai pukul 20.22, kemudian kita mengukur kualitas udara selama satu jam untuk mengetahui kualitas udara diruangan rumah korban. Dan hasilnya, CO atau Karbondioksidanya mencapai diangka 8.371, dan ini cukup tinggi. Hasil Non Metan Hidrokarbonnya juga cukup tinggi diangka 3.952, sementara baku mutu normalnya diangka 160," jelas Candra.
BACA JUGA:Di Duga Keracunan Asap Genset Dua Anggota Keluarga Meninggal Dunia
BACA JUGA:Satu Keluarga di Musi Rawas Diduga Keracunan Asap Genset, Dua Orang Meninggal Dunia
Setelah dari TKP, pukul 22.00 mereka kembali ke Mapolres untuk mengecek Genset. Genset dihidupkan dan diukur ukur gas buangnya.
"Pukul 23.00 wib kami ukur, dan hasilnya CO yang dihasilkan diangka 1.090,73 Karbon Monoksida. Sementara baku mutu diangka 170 yang diperbolehkan. Maka disimpulkan genset tersebut menghasilkan CO yang tinggi didalam ruangan. CO itu gas yang tidak berbau dan tidak berasa. Dia gas reaktif yang masih memerlukan ikatan oksigen, maka ketika terhirup dia akan mencari Oksigen dalam tubuh lalu mengikat hemoglobin makanya menyebabkan dapat menganggu alat vital dalam tubuh," tegasnya.
Sementara Direktur RS DR Sobirin, dr Sopian Hadi menjelaskan untuk korgan Yayan, sampai dirumah sakit sudah dalam kondisi meninggal. Secara medis ditemukan tanda kaku mayat yang artinya kemungkinan meninggalnya lebih dari 3 sampai 6 jam.
"Sementara istri dan dua anaknya sangat kritis saat datang, Bahasa medisnya mereka datang dalam kondisi multivel organ failure, dimana seluruh organ vital sudah terjadi kerusakan seperti paru-paru, ginjal hingga jantung. Untuk itu sang istri dirawat di ICU dan anaknya dirawat di PICU," jelasnya.
BACA JUGA: Anak Keracunan Usai Santap Menu Makan Bergizi Gratis, Pakar Gizi Ingatkan Pengusaha Katering
Kondisi ibu masih terinkubasi, menggunakan alat bantu nafas dan dipasang monitor. Kondisinya juga masih stagnan belum ada tanda perbaikan.
Sementara kedua anaknya sudah sadar namun belum full 100 persen, belum bisa dialog. Namun sangat disyukuri bisa selamat dalam kondisi multivel organ failure.