Deteksi Dini Lupus Sebelum Komplikasi
Foto : Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Ahmar Kurniadi, Sp.PD-KKV, FINASIM--
KORANLINGGAUPOS.ID - Waspada penyakit lupus. Jika lambat ketahuan dan lambat dilakukan penanganan, maka bisa komplikasi seperti mengalami gagal ginjal yang dampaknya bisa merenggut nyawa si pasien.
Untuk itu tegas Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Ahmar Kurniadi, Sp.PD-KKV, FINASIM akan sangat baik jika penyakit Lupus diketahui sejak awal dan segera dilakukan terapi.
"Karena komplikasi yang dikhawatirkan ya itu, merusak ginjal dan membuat pasiennya harus rutin cuci darah. Bahayanya lagi, ya bisa menyebabkan kematian.
Namun jika cepat ketahuan, rutin terapi dan rutin mengkonsumsi obat maka rata-rata pasien saya bisa teratasi," ungkapnya.
BACA JUGA:RS Siloam Silampari Sukses Adakan Health Talk, Program Skrining dan Deteksi Dini Kanker Paru
BACA JUGA:Deteksi Dini Serangan OPT, POPT Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas Lakukan Monitoring
Lupus jelas dr Ahmar, golongan penyakit Auto Imun yang manisfestasinya ke seluruh tubuh.
Gejala awalnya seperti pasien mengalami rambut rontok, kukuk pecah dan pendarahan. Penyakit ini khas awal biasanya demam lama, bibir pecah-pecah dan sariawan, rambut rontok. eteah itu akan timbul bercak kemerahan dibawah dan atas mata kiri - kanan yang biasaya mirip kupu-kupu. Jika ini sudah timbu baru dicurigai lupus dan biasanya langsung kita lakukan cek darah," jelasnya.
Pasien Lupus lanjutnya, biasanya imunnya rendah sehingga mudah terinfeksi dengan akteri atau kuman.
"Makanya kalau kita sebutnya, pasien Lupus ini perlu minum obat seumur hidupnya. Tapi jika rajin kontrol dan terapi lama-lama bagus kontrolnya, dosis obatnya bisa saja dikurangi," tegasnya.
BACA JUGA:Cara Cek Kesehatan Gratis 2025, Deteksi Dini Penyakit Pada Hari Ulang Tahun
Sebelumnya, dikutip dari laman resmi milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, melalui Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) mereka memperkuat strategi deteksi dini dalam menangani Lupus Eritematosus Sistemik (LES), yang dikenal sebagai “Penyakit Seribu Wajah”. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang lupus melalui edukasi dan pendekatan berbasis komunitas.
Lupus merupakan penyakit autoimun kronis di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuhnya sendiri. Berdasarkan studi yang dilakukan Prof. Handono Kalim dan tim di Malang, prevalensi lupus di Indonesia diperkirakan sebesar 0,5%, dengan jumlah penyandang lebih dari 1,3 juta orang. Penyakit ini terutama menyerang perempuan usia reproduksi 15-45 tahun.