Mencintainya Hanya Sekedar Melihat Dirinya

Mentari pagi Lubuk Linggau menyapa lewat celah jendela, menerangi pigura foto di nakas - Foto : Dok. asset2.morefurniture.id-

KORANLINGGAUPOS.ID - Mentari pagi Lubuk Linggau menyapa lewat celah jendela, menerangi pigura foto di nakas. Seorang gadis dengan senyum sehangat mentari di foto itu. 

Namanya, Nara. Bagi Arya, Nara adalah pagi itu sendiri. Bukan karena mereka saling mengenal, bukan karena pernah bertukar sapa, melainkan karena Arya selalu memulai harinya dengan melihat fotonya.

Arya bekerja di kedai kopi seberang jalan dari toko bunga milik Nara. Setiap pagi, sebelum membuka kedainya, Arya selalu menyempatkan diri berdiri di trotoar, menatap toko bunga yang masih tutup. Ia akan membayangkan Nara di balik pintu itu, merangkai bunga dengan jemari lentiknya, menebarkan aroma wangi ke seluruh ruangan.

Ketika toko bunga itu akhirnya buka, dan Nara muncul dengan senyum cerahnya, jantung Arya berdegup lebih kencang. Ia akan pura-pura sibuk membersihkan meja di luar kedai, mencuri pandang ke arah Nara yang menyiram bunga atau melayani pelanggan dengan ramah. Cukup baginya melihat Nara tersenyum, mendengar suara lembutnya sesekali tertangkap angin. Lebih dari itu, Arya tak berani berharap.

BACA JUGA:Perempuan Wajib Tahu, Inilah 7 Tanda Pria yang Tidak Serius Mencintai Kamu dan Patut Untuk Diwaspadai

BACA JUGA:Wanita Wajib Ketahui Tanda Pria Mencintaimu Karena Fisik Atau Cantikmu

Cintanya pada Nara tumbuh diam-diam, sehalus embun pagi yang menyentuh kelopak bunga. Ia tidak tahu apa warna mata Nara dari dekat, bagaimana harum rambutnya, atau apa yang membuatnya tertawa. Baginya, Nara adalah siluet indah di kejauhan, melodi lembut yang sayup-sayup terdengar. Mencintainya hanya sebatas mengagumi dari jauh, seperti mengagumi lukisan indah yang dipajang di galeri.

Suatu sore, hujan deras mengguyur Lubuklinggau. Arya sedang membereskan kursi di luar kedai ketika melihat Nara kesulitan menutup tenda tokonya. Angin bertiup kencang, membuat tenda itu berkibar tak terkendali. Tanpa berpikir panjang, Arya berlari menyeberang jalan.

Dengan sedikit kesulitan, mereka berdua berhasil menurunkan dan mengikat tenda. Untuk pertama kalinya, Arya berdiri begitu dekat dengan Nara. Ia bisa melihat bulu mata lentiknya yang basah oleh rintik hujan, dan aroma mawar yang lembut menguar dari tubuhnya. Jantung Arya berdebar tak karuan.

"Terima kasih banyak," ujar Nara, suaranya selembut desah angin. 

Senyumnya mengembang, lebih dekat dan nyata dari yang pernah Arya bayangkan.

BACA JUGA:Cewek Wajib Tahu, Berikut 3 Tanda Pria Tulus Mencintai Kalian

BACA JUGA:Tahukah Kamu, Inilah Alasan Kita Harus Mencintai Nabi Muhammad SAW

Arya hanya bisa mengangguk gugup, lidahnya terasa kelu. Ia tak tahu harus berkata apa. Semua kata-kata indah yang selama ini ia rangkai dalam hati, menguap begitu saja.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan