Ternyata ini Penyebab Kenakalan Remaja
Fainna Safitri, M. Psi., Psikolog -Foto : Dok. Tiktok Fainna Safitri., M. Psi., Psikolog-
LUBUK LINGGAU, KORANLINGGAUPOS.ID — Fenomena kenakalan remaja terus menjadi sorotan publik.
Psikolog Fainna Safitri, M.Psi., membagikan pandangannya mengenai akar permasalahan perilaku menyimpang remaja dan pendekatan yang sebaiknya diambil oleh masyarakat dan orang tua.
Fainna Safitri mengatakan bahwa remaja bukan hanya "nakal" karena ingin menentang aturan, melainkan karena mereka sedang berada di fase perkembangan yang kompleks: mencari identitas, menguji batas, dan meraba dunia nilai.
Ia juga menambahkan bahwa remaja berada dalam masa eksplorasi identitas. Ini artinya, mereka sedang mencari “siapa aku?” melalui berbagai percobaan, termasuk perilaku yang mungkin dianggap menyimpang.
BACA JUGA:Waspada Narkoba Incar Remaja : Psikolog Irwan Tony Ungkap Ciri, Dampak, dan Kiat Mencegah
Fainna Safitri mengatakan remaja ialah fase mencari jati diri atau identitas, oleh karena itu ada kemungkinan juga sehingga mencoba perilaku yang salah.
Hal ini bukan semata tindakan yang salah, tetapi sering kali bentuk pencarian makna dan tempat dalam lingkungan sosialnya.
Ketika lingkungan sekitar tidak memberikan batasan yang sehat atau tidak hadir sebagai “kompas sosial,” remaja bisa merasa bebas dalam arti yang keliru. Di sinilah pentingnya peran keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai penjaga keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab.
Remaja yang merasa tidak memiliki tempat untuk bercerita atau tidak mendapat dukungan emosional cenderung mencari pelarian melalui perilaku menyimpang.
BACA JUGA:Mencuri di Rumah Sendiri, Remaja Ini Dilaporkan ke Polisi, Uangnya untuk Beli Narkoba dan Judi Slot
BACA JUGA:Stres pada Otak Remaja dan Kaitannya dengan Kesehatan Mental, Begini Kata Psikolog
Selain itu, liingkungan pertemanan yang negatif, bullying, atau ekspektasi sosial yang tinggi dapat mendorong remaja melakukan tindakan ekstrem sebagai bentuk pelampiasan.
Edukasi bagi orang tua tentang pentingnya komunikasi terbuka dan empati menjadi kunci pencegahan.