Pendekatan Literasi Holistik untuk Anak Usia Dini
Literasi.-Foto: REFO Indonesia-
KORANLINGGAUPOS.ID-Dalam era digital yang serba cepat, literasi sering kali dipahami secara sempit sebagai kemampuan membaca dan menulis.
Namun, Dra. Yuli Suliswidiawati, seorang pemerhati pendidikan anak dan tokoh literasi nasional, menawarkan sudut pandang yang lebih dalam dan menyentuh hati.
Literasi bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan proses pembentukan jiwa dan karakter anak sejak dini.
Menurut Dra. Yuli, literasi sejati dimulai dari cara anak belajar membaca dan mengucapkan kata-kata yang bermakna.
BACA JUGA:Refleksi Literasi Akademik Sekali Duduk
BACA JUGA:Pelatihan Membaca Nyaring, Tingkatkan Budaya Literasi
Ia menekankan pentingnya memilih kalimat positif dan penuh nilai dalam proses pembelajaran.
“Coba dengar kata-katanya, misalnya ‘Allah itu dekat’. Ini bukan sekadar kalimat, tapi pengenalan spiritual yang mendalam,” ujarnya dalam sebuah diskusi literasi anak.
Kalimat-kalimat seperti itu, lanjutnya, bukan hanya memperkaya kosakata anak, tetapi juga menanamkan keyakinan dan tauhid secara alami.
Anak-anak yang terbiasa mendengar dan mengucapkan kata-kata bermakna akan merekamnya dalam jiwa mereka, menjadikannya bagian dari identitas dan nilai hidup.
BACA JUGA:Taman Literasi Blok M, Ruang Publik Edukatif dan Ramah Anak di Tengah Kota
Dra. Yuli menekankan bahwa literasi harus diajarkan dengan sukacita, bukan paksaan.
Pembelajaran yang menyenangkan akan membuat anak lebih mudah menyerap dan menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam kata-kata.