Mengenal Tradisi Rewang yang Masih Lestari di Musi Rawas

Warga di salah Kelurahan Purwodadi di Kabupaten Musi Rawas bergotong royong mengikuti kegiatan rewang menjelang pelaksanaan hajatan. Tradisi ini masih terus dilestarikan sebagai wujud kebersamaan dan solidaritas masyarakat. --

KORANLINGGAUPOS.ID - Tradisi rewang hingga kini masih terus dilestarikan oleh masyarakat di berbagai desa di Kabupaten Musi Rawas.

Tradisi yang identik dengan semangat gotong royong tersebut, tetap menjadi bagian penting dalam setiap pelaksanaan hajatan, mulai dari pernikahan, khitanan, hingga kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.

Rewang merupakan kegiatan membantu tuan rumah sebelum acara berlangsung. Para ibu-ibu biasanya terlibat dalam menyiapkan bahan makanan dan memasak, sementara para pria membantu berbagai pekerjaan seperti memotong ayam, menyiapkan hidangan, mendirikan tenda, serta menata lokasi acara.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, tradisi ini masih bertahan dan menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga. Selain membantu meringankan pekerjaan penyelenggara acara, rewang juga menjadi wadah untuk memperkuat silaturahmi dan rasa kekeluargaan di lingkungan masyarakat.

BACA JUGA:Wisata Nongkrong Pinggir Siring di Purwakarya jadi Favorit Warga Musi Rawas

BACA JUGA:Waspada Kebakaran, Damkar Musi Rawas Latih Pengurus TP PKK Desa Gunakan APAR

Pada hajatan pernikahan maupun khitanan, kegiatan rewang umumnya berlangsung selama tiga hari. Hari pertama biasanya diisi dengan kegiatan memotong ayam yang jumlahnya bisa mencapai ratusan ekor. Ayam tersebut kemudian diolah untuk kebutuhan punjungan atau tonjokan yang dibagikan kepada undangan pada hari berikutnya.

Jumlah punjungan yang disiapkan juga tidak sedikit. 

Dalam satu hajatan besar, jumlah penerima punjungan bisa mencapai ratusan hingga ribuan. Tradisi ini menjadi salah satu ciri khas masyarakat pedesaan yang masih terjaga hingga saat ini.

Meski demikian, isi punjungan mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Dahulu, punjungan biasanya berisi ayam ungkep, nasi, sambal tempe kering, serta bihun tumis yang dikemas menggunakan rantang susun. Namun saat ini, isi punjungan umumnya lebih sederhana, yakni ayam goreng, nasi, mi instan, dan telur rebus yang dikemas menggunakan besek plastik atau wadah praktis lainnya.

BACA JUGA:Harga Mulai Stabil, Pedagang di Musi Rawas Mulai Ambil Cabai dari Petani Lokal

BACA JUGA:Cerita Peternak Lokal di Musi Rawas, Bangga Sapinya Terpilih menjadi Bantuan Kemasyarakatan Presiden

Warga menilai rewang tidak hanya sebatas membantu pekerjaan tuan rumah, tetapi juga menjadi ajang berkumpul dan memperkuat rasa kebersamaan di antara masyarakat. 

Melalui tradisi tersebut, hubungan antarwarga menjadi lebih erat karena mereka saling membantu tanpa mengharapkan imbalan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan