Paimin, Tukang Becak Tua yang Bertahan Hidup dari Belas Kasih Warga

Paimin Tukang Becak yang sedang mangkal di pinggir jalan Jl. Trans Sumatera Lahat - Lubuk Linggau Kelurahan Watervang Kecamatan Lubuk Linggau Timur I, Jumat 18 April 2025 - Foto : Mukmin/Linggau Pos-

LUBUK LINGGAU, KORANLINGGAUPOS.ID — Di usianya yang telah menginjak 70 tahun, Paimin, warga Kelurahan Cereme Taba, Kota Lubuklinggau masih harus berjuang keras demi bertahan hidup.

Meski tubuhnya tak lagi sekuat dulu, ia tetap mencoba mencari nafkah dengan becak sewaan yang setia menemaninya di pinggir jalan lintas Kelurahan Watervang, Kota Lubuk Linggau.

Dulu, saat tenaganya masih prima, Paimin sempat bekerja sebagai kuli bangunan. Namun seiring usia yang menua dan tubuh yang semakin renta, ia tak lagi sanggup mengangkat semen dan pasir.

Becak kayuh menjadi pilihan terakhir untuk tetap berusaha mandiri, meskipun sekarang pun, ia sudah tak lagi kuat mengayuh sejauh dulu.

BACA JUGA:Viral! Pesta Ulang Tahun 3 Kucing, Diarak Pakai Becak Hias hingga Diiringi Dangdut dan Kuda Lumping

BACA JUGA:Meski Tergerus Zaman Sukirno Tetap Semangat Menjalankan Pekerjaan Pengayun Pedal Becak

“Sudah dua tahun ini saya sering sakit pinggang dan kaki, sejak kecelakaan kecil waktu itu,” ujarnya pelan.

Kini, becak yang biasa digunakan lebih banyak menjadi tempat menunggu. Ia hanya duduk di atasnya, berharap ada warga yang berbaik hati memberi sedikit rezeki.

Paimin mengungkapkan memiliki tiga orang anak, dan dua orang anak saat ini jauh, tinggal  di Curup Provinsi Bengkulu, dan hanya satu anaknya perempuan yang tinggal bersamanya. 

Setiap harinya, ia hanya mampu memperoleh antara Rp50.000 hingga Rp100.000, itu pun jika beruntung. Ada kalanya ia pulang tanpa membawa uang sepeser pun.

BACA JUGA:Tradisi Unik Pengajuan Nikah di Satuan TNI AD Dari Gowes Becak hingga Konvoi Motor Meriah

BACA JUGA:Penarik Becak di Pasar B Srikaton Mengeluh, Dapat Rp 50 Ribu Saja Susah

Ironisnya, becak yang menjadi sumber penghidupan itu pun bukan miliknya sendiri. Ia menyewa becak tersebut dengan biaya Rp25.000 per hari. Belum lagi harus membayar sewa rumah kontrakan tempat ia tinggal sebesar Rp350.000 per bulan. Di tengah kondisi fisik yang tak lagi sehat, beban hidup ini semakin terasa berat.

Paimin mengaku belum pernah menerima bantuan secara langsung. Meskipun menjelang Lebaran lalu, ia mendengar bahwa sudah ada bantuan dari dinas terkait untuk warga tak mampu. Namun hingga kini, ia belum mengetahui pasti kapan bantuan itu akan ia terima.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan