AI-like, Siapa Takut?
Dr. Susyanto Tunut - Dosen Prodi Kewirausahaan Universtas PGRI Silampari - Foto: Dok. Pribadi-
KORANLINGGAUPOS.ID - AI-like merujuk pada karakteristik teks, karya, atau perilaku yang terlihat seolah dihasilkan oleh Artificial Intelligence (AI) — meskipun mungkin sebenarnya dibuat manusia.Istilah ini berkembang untuk menggambarkan konten yang: terlalu rapi, terlalu netral, terlalu generik, minim ciri khas personal.
Fenomena ini memunculkan ketakutan baru:Apakah kita, sebagai manusia, secara tidak sadar sedang menulis, berbicara, atau berkarya dengan gaya seperti mesin?Apakah "AI-like" justru membunuh spontanitas, keunikan, dan ekspresi asli manusia?
Ada platform AI yang mengklaim bisa deteksi produk AI. Ada platform AI yang mengklaim bisa membuat produk AI menjadi humanis. Bagaimana mungkin?
Tulisan ini ingin mengajak kita memahami “cara kerja” AI Detector Tools dan bagaimana kita sebaiknya menyikapi fenomena AI Like.
BACA JUGA:Opini : Triks Menjadi Sekolah / Madrasah yang Elegan dan Humanis
BACA JUGA:Opini : Belajar Dimulai dari Cinta: Peran Psikologi dalam Membentuk Fondasi Karakter Anak Usia Dini
Cara Kerja AI Detector Tools
Ya. Banyak AI detector tools yang mengklaim bisa mendeteksi apakah suatu teks dibuat oleh AI, seperti GPT, Claude, atau lainnya. Tapi pertanyaannya seberapa mungkin (how possible) deteksi ini akurat dan dapat diandalkan? Jawaban jujurnya: mungkin secara teknis, tapi masih jauh dari pasti dan banyak batasannya.
Untuk memahaminya, mari kita lihat bagaimana cara kerja AI Detector. Bagaimana AI Detector Bekerja?
Solaiman, I., Brundage, M., Clark, J., et al. (2019), Gao, C., et al. (2023), dan TurnItIn (2023) menyebutkan bahwa AI detector biasanya bekerja berdasarkan: (1) Perhitungan Perplexity dan Burstiness: Perplexity merujuk kepada seberapa mudah teks diprediksi oleh model Bahasa. Sedangkan Burstiness menunjukkan seberapa bervariasi panjang dan gaya kalimatnya. Tulisan AI biasanya terlalu rapi, terlalu “average”, tanpa variasi gaya dan struktur; (2) Pola Sintaksis dan Frekuensi Kata pada AI cenderung menggunakan struktur kalimat yang stabil, netral, dan mirip satu sama lain. Detektor melihat apakah struktur itu terlalu ‘matang’ dan terlalu ‘halus’.
AI detector akan menganalisis atau mendeteksi apakah sebuah teks ditulis oleh manusia atau LLM (Large Language Model) seperti ChatGPT, GPT-4, Claude, Gemini, dll, melalui: 1. Statistik Token-Level dari LLM, 2. Struktur Kalimat dan Keberulangan, 3. Analisis Keunikan Gaya Bahasa, dan 4. Kecepatan Perubahan Topik dalam Teks. Mari kita bahas satu per satu.
1. Statistik Token-Level dari LLM
Beberapa detektor membandingkan teks dengan distribusi token khas dari GPT atau model sejenis. Statistik token-level melihat frekuensi, variasi, dan pola kemunculan token (unit kata) untuk membedakan teks manusia vs LLM. Tapi… akurasinya masih rendah! Tabel berikut menunjukkan beberapa kemungkinan eror yang dilakukan oleh sebuah AI detector:
Faktor