Masih Kakurangan Guru Pendidikan Inklusi, Ada 2 Kendala Pendidikan Bagi ABK

Aktivitas Anak-anak Berkebutuhan Khusus yang dididik penuh cinta di SLB Dian Wiyata Musi Rawas. -Foto: SLB Dian Wiyata-

KORANLINGGAUPOS.ID-Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) masih menjadi tantangan krusial untuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). 

Salah satu masalah yang tidak bisa dipungkiri terkait hal itu adalah kurangnya jumlah guru pendidikan inklusi.

Mendikdasmen Republik Indonesia Abdul Mu'ti mengaku masih terus mencari formulasi yang tepat untuk menyelesaikan hal tersebut. 

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menghadirkan crash program untuk guru.

BACA JUGA:SLB Bina Sejahtera Mandiri Lubuk Linggau : Latih Kemandirian bagi Anak Berkebutuhan Khusus dari SD hingga SMA

BACA JUGA:Semangat Tak Terbatas : Antusiasme Siswa SLB Bina Sejahtera Mandiri Lubuk Linggau dalam Menempuh Pendidikan

Crash program memungkinkan pengajar di lembaga pendidikan inklusi tidak harus berasal dari lulusan program studi ABK. 

Tetapi, memungkinkan guru-guru pendidikan umum yang dibekali dengan ilmu serupa.

"Mungkin semacam crash program dulu tidak harus jenjang formal dalam pengertian harus (lulusan) dari program studi untuk anak-anak berkebutuhan khusus, tapi bisa guru-guru yang kita berikan pelatihan untuk nanti mendampingi anak-anak yang berkebutuhan khusus," tutur Mu'ti dilansir dari Detik Edu.

Berikut kendala, pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia:

BACA JUGA:Guru Honorer SLB Bina Sejahtera Mandiri Lubuk Linggau 10 Tahun Mengabdi, ini Harapannya

BACA JUGA:SLB Bina Sejahtera Mandiri Lubuk Linggau Menyemai Kemandirian dan Kasih Sayang untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Pertama,  pendidikan ABK di Indonesia masih memiliki kendala kultural. 

Sebab, sebagian orang tua di RI masih belum siap bila anaknya satu sekolah dengan murid ABK.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan