Memahami Tantrum Anak Usia Dini Menurut Dra. Yuli Suliswidiawati
Dra. Yuli Suliswidiawati -Foto: Dok. TikTok Dra. Yuli Suliswidiawati-
LUBUK LINGGAU, KORANLINGGAUPOS.ID - Tantrum pada anak kecil sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua.
Namun, menurut Dra. Yuli Suliswidiawati, seorang pakar perkembangan anak, fenomena ini merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang anak, khususnya pada usia 2–3 tahun.
Di masa ini, anak sedang berada dalam fase transisi penting dalam kemampuan berkomunikasi dan mengelola emosi.
Dra. Yuli menjelaskan bahwa pada usia tersebut, anak belum sepenuhnya mampu mengungkapkan apa yang mereka rasakan atau inginkan.
BACA JUGA:3 Strategi Efektif Mencegah Tantrum Anak ala Psikolog Citra Aulia, M.Psi
BACA JUGA:Anak Sering Tantrum dan Teriak Pastikan Kesehatan Pencernaannya Tidak Bermasalah
Ketika keinginan mereka tidak tersampaikan dengan baik, emosi yang terpendam sering kali muncul dalam bentuk tangisan, teriakan, atau bahkan amukan kecil. Inilah yang dikenal sebagai tantrum.
Tantrum bukanlah bentuk kenakalan atau manipulasi, melainkan ekspresi frustrasi karena keterbatasan dalam berkomunikasi. Anak mungkin sudah mencoba menyampaikan ide atau keinginan, namun karena keterbatasan bahasa, pesan tersebut tidak sampai dengan jelas kepada orang dewasa.
Dra. Yuli menekankan bahwa orang tua tidak perlu khawatir atau merasa kewalahan saat menghadapi tantrum.
Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan untuk membantu anak melewati fase ini dengan lebih tenang dan penuh pengertian:
BACA JUGA:Mengatasi Anak Tantrum Saat Gadget Diambil: Tantangan Orang Tua di Era Digital
BACA JUGA:Menghadapi Anak Tantrum di Sekolah: Tantangan Parenting Masa Kini
- Dengarkan dengan Penuh Perhatian
Saat anak mulai menunjukkan tanda-tanda ingin menyampaikan sesuatu, berikan perhatian penuh. Tatap matanya, dengarkan dengan sabar, dan hindari interupsi. Ini memberi anak rasa dihargai dan dipahami.