Memberi Jalan Bukan Mengalah, Tapi Menyelamatkan
Vina Aprilia -Foto : Dok. Pribadi -
KORANLINGGAUPOS.ID - Ada satu suara yang sebenarnya tidak ingin kita dengar, tapi saat ia muncul, itu artinya ada sesuatu yang sangat penting sedang terjadi. Suara itu adalah sirine ambulance atau mobil pemadam kebakaran. Di balik suara tersebut, ada situasi darurat. Ada nyawa yang sedang berjuang. Ada api yang mungkin sudah mulai merayap ke atap rumah orang. Itu bukan suara biasa. Itu panggilan untuk kita semua.
Namun di Jalanan Musi Rawas, pemandangan yang sering terlihat adalah sirene bunyi… tapi jalan tetap tidak terbuka. Ada yang masih santai melaju di tengah. Ada yang bingung mau ke kiri atau kanan. Bahkan ada juga yang tetap cuek, seolah suara itu hanya efek suara dari film aksi.
Padahal memberi jalan bukan hal sulit. Kita tidak sedang diminta berhenti kuliah, bekerja, atau mengubah hidup. Kita hanya diminta menepi beberapa detik. Tapi anehnya, beberapa detik itu sering terasa berat sekali untuk sebagian orang.
Bayangkan kalau yang ada di dalam ambulance itu adalah ayah yang sedang kesakitan. Ibu yang sesak napas. Adik yang kecelakaan. Atau kalau yang sedang membutuhkan damkar itu adalah rumah saudara kita, tempat kenangan, hasil kerja bertahun-tahun. Saat kita membayangkan hal itu terjadi pada orang yang kita sayangi, barulah terasa bahwa beberapa detik itu berharga.
BACA JUGA:Pentingnya Perbaikan Lampu Jalan untuk Keselamatan Masyarakat
Selama ini, petugas di Musi Rawas sudah berusaha maksimal. Para sopir ambulance sudah berpengalaman mencoba bermanuver tanpa membahayakan orang lain. Petugas damkar juga sering kali berangkat dengan waktu yang sudah terhitung sangat mepet. Tapi semua itu akan kembali percuma jika masyarakat di jalan tidak memberi ruang.
Sikap memberi jalan bukan hanya soal kepatuhan aturan, tapi soal hati. Soal rasa peduli. Soal menyadari bahwa hidup ini tidak hanya tentang kita. Ada orang lain yang juga sedang berjuang.
Dan memberi jalan pun tidak susah, kuncinya adalah Tetap tenang, jangan panik , Menepi ke kiri sejauh mungkin , Tidak ikut mengekor di belakang kendaraan darurat (itu bukan jalan tol gratis) , Tetap awas supaya tidak membuat kecelakaan baru.
Biasanya masalah muncul bukan karena tidak tahu aturannya, tapi karena tidak terbiasa peduli. Kadang kita merasa “Ah, paling juga bukan urusan saya.” Tapi siapa yang tahu? Hari ini mungkin kita hanya penonton… besok bisa jadi kita yang membutuhkan pertolongan itu.
BACA JUGA:Jalan Lintas Nasional Rusak Parah, Forkopimca Bahas Solusi Konkret
BACA JUGA:Manfaat Jalan Kaki 30 Menit Setiap Hari
Di daerah kita, Musi Rawas, budaya gotong royong sebenarnya kuat. Ketika ada warga sakit, kebakaran, atau musibah lain, kita cepat bergerak. Tapi kesadaran di jalan raya juga bagian dari gotong royong itu. Membuka jalan untuk ambulance dan damkar sama saja seperti ikut menolong, meskipun kita bukan petugas dan tidak berada di lokasi kejadian.
Sirene itu bukan sekadar suara keras. Itu adalah panggilan kemanusiaan.