Dampak Serangan Hama Penggerek Batang, Menurunkan Hasil Produksi Padi

Suwanto, Petugas Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamatan Tugumulyo, saat menjelaskan cara penggunaan insektisida yang bahan aktif utamanya adalah Dimehipo 500- Foto : MUSLIMIN-

MUSI RAWAS, KORANLINGGAUPOS.ID – Penurunan hasil pertanian yang ditimbulkan oleh hama tentunya memiliki kisaran kerusakan yang bervariasi, mulai dari penurunan hasil panen yang tidak terlalu signifikan sampai tahap paling parah, yakni gagal panen. 

Salah satu jenis hama yang sering menyebabkan menurunya hasil produksi padi yakni, hama penggerek batang padi.

Suwanto SP,  Petugas Pengendalian Organisme  Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamatan Tugumulyo menjelaskan, hama Penggerek batang padi merupakan salah satu hama yang paling sering menyerang tanaman padi dengan intensitas serangan sampai 90 persen

Selain itu hama ini juga dapat menyerang tanaman padi hingga di berbagai fase pertumbuhan mulai dari fase vegetatif sampai generatif. Biasanya gejala yang ditimbulkan dari serangan hama penggerek batang secara umum itu ada 2 jenis, yaitu sundep dan beluk. 

 

Dijelaskannya,  untuk gejala sundep, serangan dimulai dengan larva ngengat merusak tanaman padi sebelum memasuki fase vegetatif (masa pembungaan) dan gejalanya mulai terlihat ketika tanaman padi berumur 21 hari setelah tanam(HST). Kemudian  setelah 1 minggu.

Larva ngengat akan bertelur dan meletakkannya pada batang tanaman padi, dan selang 4-5 hari telur akan menetas sekaligus merusak sistem pembuluh tanaman yang terdapat pada batang padi. Dampak visualnya yaitu pucuk batang padi menjadi kering kekuningan serta mudah dicabut.  Jelasnya Kepada KORANLINGGAUPOS.ID, Rabu 31 Desember 2025.

Sedangkan untuk gejala beluk, serangannya terjadi pada fase generatif (masa pembentukkan malai). Dari serangan yang ditimbulkan itu berdampak menyebabkan bulir padi menjadi hampa akibat proses pengisian bijinya tidak berjalan sempurna karena kerusakan pada pembuluh batang padi. 

"Tak hanya itu, kerugian hasil yang disebabkan oleh gejala beluk juga bervariasi berkisar 1-3 persen dengan rata-rata 1,2 persen. Maka dari itu, upaya pengendalian OPT tentunya sangat perlu dilakukan untuk mencegah kerugian akibat serangan hama penggerek batang," jelasnya.

 

Untuk di Desa Mataram Kecamatan Tugumulyo, setelah dilakukan pengamatan bersama dengan Petugas Penyuluhan pertanian(PPL) Desa Mataram dan petani, ditemukan OPT hama Penggerek Batang Padi.

"Agar serangan tidak terus meluas kami lakukan gerakan pengendalian dengan penyemprotan," tegasnya.

Kegiatan dilakukan di Kelompok Tani Maju Desa Mataram, dengan luasan pengendalian di lahan sekitar 25 hektar pada usia tanaman padi yang bervariasi mulai dari 5-45 HST.  Untuk pengendalian yang dilakukan itu dengan penyemprotan dengan mengaplikasikan insektisida yang bahan aktif utamanya adalah Dimehipo 500 g/l, berfungsi untuk membunuh hama seperti wereng coklat, penggerek batang, dan ulat pada tanaman padi, sayuran, dan kelapa sawit dengan cara kerja kontak dan lambung.

"Insektisida ini merupakan bantuan dari Upt Perlintan Tugumulyo Musi Rawas, dimana  sebelum melakukan pengaplikasiannya pada tanaman padi kami terlebih dahulu menyampaikan cara penggunaannya yang tepat," jelasnya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan