Orang Tua Bukan Dalang dan Anak Bukan Boneka

Rabu 11 Jun 2025 - 21:41 WIB
Reporter : Dr. Donni Pestalozi, M.Pd
Editor : SULIS

KORANLINGGAUPOS.ID - Salah satu postingan temen sebelah begitu menarik untuk direnungkan. Dalam postingan tertulis "Parents are hefty puppetmaster" yang artinya "orang tua adalah dalang yang tangguh.

Kata "Dalang" berasal dari Bahasa Jawa kuno Dalan yang artinya pemain boneka. Dalam filosofi Jawa dalang juga berarti "ngudal piwulang" (menjelaskan ilmu) yang bertujuan memberikan pencerahan kepada penonton. Sebagai kreasi pikiran yang menjadi tradisi, tentu eksistensi dalang dalam pewayangan mengandung nilai-nilai luhur yang tidak hanya menghibur penonton tetapi juga menyampaikan pesan-pesan moral tentang kisah hidup. Sang dalang adalah sosok yang terampil dan boneka atau wayang adalah instrumen pertunjukan. Dalang dalam suatu pertunjukan mengajak kita untuk melakukan kontemplasi (perenungan), bukan mempengaruhi, mengarahkan, atau mengendalikan pikiran para penonton. Ia (dalang) tidak memposisikan dirinya sebagai raja yang harus diikuti, dicontoh, diteladani, dan dimuliakan dengan kesetiaan. Ia (dalang) adalah penguasa panggung yang terampil dan berbakat, tulus dan memiliki empati.

Empati adalah kualitas utama yang dimiliki sang dalang. Empati dalam Oxford-review "the ability to understand and share the feelings of another", suatu kemampuan memahami dan turut merasakan apa yang dialami seseorang. Kualitas empati inilah yang dimiliki dan menjadi esensi suatu pertunjukan kisah yang dibawakan seorang dalang.

Dalam realita kehidupan sehari-hari, hubungan antara orang tua dan anak seringkali terjalin atas dasar "rasa menguasai dan mengatur" (sense of overruling) sehingga kebebasan (freedom) sebagai prasyarat belajar selalu dikesampingkan. Sebagaimana kisah wayang, orang tua bukanlah dalang, dan anak bukanlah boneka atau wayang. Anak adalah peserta belajar yang dididik untuk menjadi diri yang mandiri dan dewasa dengan cinta dan kasih sayang. Kemampuan melihat dan kemampuan mendengar akan terbangun hanya dengan adanya kebebasan dengan pendampingan. 

BACA JUGA:Ini Tanda Anak Stres yang Harus Dipahami Orang Tua

BACA JUGA:Ajarkan Anak Didik Sejak Dini dengan Membantu Pekerjaan Orang Tua, Latih Mental Kuat

Freedom atau kebebasan belajar harus ditumbuhkan dalam hubungan antara orang tua dan anak. Kebebasan bukan bermakna pengabaian atau membiarkan anak berbuat sesukanya tanpa kesadaran dan kepekaan. Kebebasan artinya memberikan ruang seluas luasnya kepada anak untuk melihat dengan ketajaman hati dan pikirannya terhadap fakta dan realita hidup sebagai objek belajar. Sikap empati di mana orang tua turut merasakan apa yang dialami anak menjadi dasar penghayatan nilai-nilai hidup.

Telahkah kita sebagai orang tua memberikan kebebasan belajar kepada anak? Sejak anak masih kecil kita telah mengenalkan cita-cita hidup namun mungkin lupa mengajarkan apa itu cita-cita dan apa dampak psikologis dari cita-cita hidup. Kita bahkan mungkin telah menetapkan cita-cita hidup kepada anak atas dasar keinginan kita, bukan atas dasar eksplorasi mandiri yang didampingi. Anak menjadi diri seperti boneka yang digerakkan dan kehilangan kepekaan. Kita bisa saja telah hidup dalam negara yang merdeka, namun praktek eksploitasi terhadap anak adalah suatu penjajahan.

Keputusan-keputusan hidup sering dibebankan orang tua kepada anak tanpa pemaknaan logis dan etis sehingga anak seringkali mengalami guncangan mental (emotional distress). Tak sedikit juga anak begitu menuruti setiap kata-kata orang tuanya dengan dalih kepatuhan (submissiveness). Apakah anak harus menjadi diri yang patuh? Bukankah kepatuhan adalah bentuk pemaksaan, penekanan, dan eksploitasi? Anak bukanlah boneka ataupun robot yang terprogram layaknya robot AI. 

Tuntun dan dampingilah anak agar mereka mampu menemukan sendiri minat dan bakatnya sehingga mereka tumbuh dengan kecerdasan. Kecerdasan yang terbangun mengandung nilai kemandirian, sensitivitas, dan rasa empati terhadap semua mahluk ciptaan. Inilah fondasi hidup dalam bingkai keluarga. 

BACA JUGA:Menjadi Orang Tua yang Tegas: Cara Mencegah Kenakalan Remaja

BACA JUGA:Kiat Mendisiplinkan Anak agar Shalat Sejak Dini: Peran Penting Orang Tua dalam Pendidikan Anak

Pendidikan anak dalam bingkai keluarga memberi dampak mendalam terhadap kualitas masyarakat (society). Pendidikan keluarga yang buruk adalah pencetus kebobrokan masyarakat, masyarakat yang sepenuhnya terikat oleh kekuasaan, dominasi, persaingan, pertikaian, dan diskriminasi. 

Mari kita kembalikan marwah seorang dalang dalam kisah pewayangan sebagai figur yang mengedepankan pendidikan empati, cinta, dan kasih sayang. Terimakasih kepada sahabat "Nigerian" Vybe Confidence yang telah menginspirasi kajian ini. Parents should not be puppetmaster and children are not puppet.(Penulis merupakan Kepala SMK Pertanian Negeri 2 Tugumulyo)

Oleh : Dr. Donni Pestalozi, M.Pd

Kategori :