Petani Melenial Lebih Memilih Bertani Dengan Menggunakan Metode Hidroponik

Buah Melon Premium yang ditanam menggunakan sistem DFT di lahan milik Farm Mentari Desa F Trikoyo Kecamatan Tugumulyo- Foto :MUSLIMIN-

MUSI RAWAS, KORANLINGGAUPOS.ID – Salah satu metode dalam pertanian yang banyak digunakan oleh sebagian petani milenial di Kabupaten Musi Rawas (Mura) Sumatera Selatan, saat ini dengan menggunakan metode hidroponik.

Bahkan saat ini sudah mulai banyak petani milenial di Musi Rawas,  yang terjun langsung ke dunia pertanian dengan menerapkan metode hidroponik. Karena  menurut mereka menerapkan metode ini dalam budidaya tamanan khususnya buah lebih menguntungkan.

Selain itu peluang bisnis ini juga memang sangat menjanjikan, apalagi saat ini kebutuhan akan buah segar yang berkualitas  juga cukup tinggi, dengan memadukan hasil pertanian yang baik ditambah dengan adanya  wisata petik buah sendiri itu memang sangat menjanjikan. 

Hal inilah yang dilakukan oleh Ahmad Tigor Prakoso Petani milenial asal Desa Wonokerto Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas, pada KORANLINGGAUPOS.ID, Sabtu 31 Mei 2025. 

BACA JUGA:Petani Desa Satan Indah Jaya Mulai Tertarik Menanam Tanaman Terong Karena Harga Stabil

BACA JUGA:Petani Desa L Sidoharjo Menyambut Baik Adanya Serapan Gabah Oleh Bulog

Dirinya menjelaskan ketertarikan dirinya membudidaya tanaman melon premium ini karena adanya peluang bisnis yang cukup menjanjikan.

Sebelum melakukan usaha ini dirinya bersama dengan teman-temannya itu telah terlebih dahulu melakukan riset, terkait dengan menanam tanaman melon premium dengan menggunakan metode hidroponik.

Menurutnya metode hidroponik sendiri itu yang membedakan nya hanya di media tanamnya , seperti dengan menggunakan sistem fertigasi tetes itu media tanaman cocopeat sedangkan jika menggunakan sistem DFT itu  menggunakan media air, kalau untuk nutrisinya itu sama saja.

"Yang jelas ada keunggulan masing-masing namun masih dalam satu metode yakni hidroponik selain itu jika menggunakan sistem DFT itu ternutrisinya sendiri itu selama 24 jam. Namun jika menggunakan sistem fertigasi tetes itu interval waktu setiap 1 jam sekali melakukan penyiraman dengan menggunakan saluran irigasi menggunakan mesin otomatis,"  jelasnya kepada KORANLINGGAUPOS.ID, Sabtu 31 Mei 2025.

BACA JUGA:Petani Melenial Lebih Memilih Bertani Dengan Menggunakan Metode Hidroponik

BACA JUGA:Panen Satu tahun Sekali Petani Padi di Jayaloka Tidak Jual Hasil Panen

Untuk kelebihannya sendiri jika menggunakan DFT itu ada ukuran buahnya itu sendiri, biasanya itu lebih besar, namun secara rasa dan tekstur daging buahnya itu sama saja, kemudian untuk operasionalnya juga sama saja, yang membedakan nya itu waktu persiapan tanamannya, untuk sistem fertigasinya sendiri itu lebih lama dengan menggunakan sistem DFT.

Karena jika menggunakan sistem fertigasi tetes itu kita harus menunggu waktu fermentasi cocopitnya terlebih dahulu sebelum menanam tanaman melon. Sedangkan jika menggunakan DFT hanya cukup membersihkan saluran airnya saja, setelah itu sudah bisa melakukan penanaman tanaman melon.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan