Kisah Haru Pasangan Lansia Pengrajin Rotan di Musi Rawas
Mbah Salam (80) bersama istrinya, Mbah Maidah (63), warga Desa L Sidoharjo Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas, saat sedang menyerut rotan, Sabtu 27 September 2025-Foto : Mukmin / Harian Pagi Linggau Pos -
KORANLINGGAUPOS.ID - Usia senja ternyata tidak menjadi penghalang bagi pasangan suami istri asal Desa L Sidoharjo, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) untuk tetap berkarya. Mbah Salam (80) dan istrinya, Mbah Maidah (63) hingga kini masih setia menekuni kerajinan pembuatan keranjang rotan sebagai sumber penghidupan mereka.
LAPORAN MUKMIN, MUSI RAWAS
Sehari-hari, pasangan ini terlihat duduk di depan rumah sederhana mereka, tepat di bawah rindangnya pohon sawo yang menjadi saksi ketekunan keduanya. Pagi hingga sore, tangan keriput Mbah Salam sibuk mengupas dan menyerut batang-batang rotan satu per satu agar siap dianyam. Proses ini bisa memakan waktu seharian penuh, baru keesokan harinya rotan tersebut mulai dirajut menjadi keranjang. Meski tubuh sudah tak lagi sekuat dulu, kualitas kerajinan mereka tetap terjaga.
“Meskipun sudah tua, masih bisa kerja. Keranjang yang kami buat selalu diambil tengkulak. Jadi setiap selesai, langsung laku,” ujar Mbah Salam dengan senyum tulus, sambil terus meraut rotan.
BACA JUGA:Senyum Lansia Menghiasi Penyerahan Bantuan dari Lapas Kelas III Surulangun Rawas HUT ke 80 RI
BACA JUGA:Tingkatkan Layanan Kesehatan, Hadirkan Posyandu Lansia di Lapas Narkotika Muara Beliti
Bahan baku rotan mereka beli dari desa sebelah dengan harga Rp 1.000 per batang. Namun, dari 100 batang rotan hanya bisa dihasilkan sekitar tiga keranjang. Dalam tiga hari, pasangan ini rata-rata hanya mampu menyelesaikan dua keranjang.
Setiap keranjang dijual ke tengkulak dengan harga Rp 100.000. Sementara untuk bagian dudukan keranjang yang terbuat dari kayu, mereka meminta bantuan anaknya untuk memotong dan menyesuaikan ukurannya.
Keranjang buatan pasangan lansia ini sangat bermanfaat, terutama bagi para petani di sekitar desa. Banyak digunakan untuk mengangkut hasil panen, keranjang rotan buatan Mbah Salam dan Mbah Maidah dikenal kuat dan tahan lama. Tak heran jika setiap kali selesai diproduksi, keranjang mereka langsung habis dibeli tengkulak.
Meski penghasilan yang didapat tidak besar, keduanya tetap mensyukurinya.
BACA JUGA:17.563 Lanjut Usia di Muratara Sudah Terima Bantuan Santunan Lansia
BACA JUGA:Tiga Kecamatan di Muratara Sudah Bentuk Sekolah Lansia
“Untuk makan dan kebutuhan sehari-hari, cukup tidak cukup ya dicukup-cukupkan. Yang penting bisa tetap bekerja, tidak hanya diam di rumah,” ungkapnya.
Lebih dari puluhan tahun sudah pasangan ini bertahan dengan profesi sebagai perajin keranjang rotan. Di usia yang senja, semangat dan ketekunan mereka menjadi teladan bahwa usia bukanlah penghalang untuk tetap berkarya dan memberi manfaat bagi orang lain.