Ketika Santri Turun ke Jalan: Antara Harga Diri dan Nilai Moral

Revinka Rera Auliya.-Foto: Dokumen Pribadi.-

Oleh : Revinka Rera Auliya

Kampus : Institut Teknologi Muhamadiyah Sumatera

KORANLINGGAUPOS.ID-Belakangan ini, masyarakat dihebohkan dengan demo para santri yang tidak terima atas tayangan di salah satu stasiun televisi, Trans7, yang dianggap menyinggung dunia pesantren. 

Tayangan itu dinilai merendahkan martabat santri dan menggambarkan kehidupan pesantren secara tidak pantas. 

BACA JUGA:Motivator Nasional Berkunjung ke Pesantren Modern Ar-Risalah Lubuk Linggau

BACA JUGA:Santri Pesantren dan Siswa MA Bersiap Ikut Tes Kompetensi Akademik, ini Manfaatnya

Wajar jika para santri merasa tersinggung, sebab pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, tapi juga tempat membentuk karakter dan moral.

Namun, dalam menyampaikan rasa kecewa, penting bagi santri untuk tetap menjunjung tinggi nilai moral yang selama ini mereka pelajari.

Islam mengajarkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar—menegakkan kebenaran dan menolak keburukan—harus dilakukan dengan cara yang baik. 

Demo yang penuh emosi, amarah, atau bahkan tindakan tidak terpuji justru dapat merusak citra santri itu sendiri.

BACA JUGA:3 Langkah Kemenag Wujudkan Program 'Pesantren Ramah Anak'

BACA JUGA:Mulai 2026, Ada BOS bagi Pesantren Penyelenggara Pendidikan Aliyah

Nilai moral sejati bukan hanya tentang membela kebenaran, tapi juga tentang cara menyampaikannya dengan akhlak yang luhur.

Tayangan yang menyinggung memang patut dikritik, karena media seharusnya lebih bijak dalam menampilkan konten yang menyentuh ranah agama dan pendidikan. 

Tapi di sisi lain, demo para santri seharusnya menjadi teladan bagaimana aspirasi disampaikan dengan damai, sopan, dan beretika. 

Dengan begitu, masyarakat bisa melihat bahwa santri bukan hanya paham agama, tapi juga mampu menunjukkan kebijaksanaan moral dalam bertindak.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan