Harga Emas Makin Tinggi, Tapi 4 Risiko Ini Bisa Bikin Orang Ilfeel
Di balik lonjakan harga emas, ada empat kekurangan besar yang sering diabaikan. Jika tidak hati-hati, emas justru bisa berubah menjadi jebakan investasi.-ilustrasi-
KORANLINGGAUPOS.ID - Fenomena lonjakan harga emas dalam beberapa pekan terakhir memang menciptakan “demam baru” di berbagai daerah.
Di sejumlah butik Emas Antam, antrean sudah mulai mengular sejak sebelum matahari terbit.
Banyak orang khawatir kehabisan stok, terlebih ketika kabar kenaikan harga terus mendominasi pemberitaan.
Kilau emas seolah menjadi magnet yang mampu menarik siapa pun untuk ikut berburu.
BACA JUGA:Harga Emas Antam Menguat Sepekan Ini, Cek Daftar Terbarunya
BACA JUGA:Akhir November Makin Panas, Harga Emas Antam Meroket dalam Waktu Singkat
Namun di balik euforia tersebut, ada fakta lain yang jarang dibicarakan. Emas memang terkenal sebagai aset aman, tetapi bukan berarti tanpa risiko.
Jika dibeli dalam kondisi emosional atau tanpa strategi yang matang, emas bisa berubah dari pelindung kekayaan menjadi sumber kerugian.
Setidaknya ada empat kekurangan mendasar yang perlu dipahami sebelum ikut terjun dalam “rush” pembelian emas.
1. Tidak Menghasilkan Pendapatan Pasif
BACA JUGA:Update Harga Emas Antam Hari Ini di Logam Mulia
BACA JUGA:Harga Emas Antam 29 November 2025 Turun Tipis: Update Terbaru Pagi Ini
Emas tak bekerja layaknya deposito, obligasi, atau saham yang bisa menghasilkan cash flow rutin.
Nilainya hanya bertumbuh jika harganya naik, ketika pasar stabil dan emas cenderung “diam” dan tidak memberi apa-apa, sehingga kurang cocok bagi investor yang mengandalkan pendapatan bulanan.
2. Kurang Efektif untuk Jangka Pendek
Banyak orang membeli emas dengan harapan cepat cuan, padahal pergerakannya relatif lambat, ditambah selisih harga beli dan harga buyback yang cukup besar terutama untuk bentuk fisik.