Cegah Kasus Gangguan Pencernaan, Seluruh SPPG Wajib Gunakan Rapid Test

BGN membatasi kapasitas layanan SPPG agar operasional dapur MBG tetap aman dan terkendali - Foto: Dok. BGN-

KORANLINGGAUPOS.ID - Adanya kasus gangguan pencernaan di beberapa daerah, membuat Badan Gizi Nasional (BGN) menerapkan langkah korektif besar-besaran untuk memperketat keamanan pangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ditargetkan terjadi penurunan insiden hingga nol kejadian secara nasional.

Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana, menegaskan bahwa sebagian besar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sudah bekerja baik, namun peningkatan standar tetap menjadi prioritas. 

Ia mengakui, memang ada beberapa kejadian, jadi harus ketahui juga bahwa sebagian besar mereka melakukan dengan sangat baik. 

"Memang masih ada yang mengalami kejadian dan itu jumlahnya harus kita tekan terus-menerus dan kita targetnya nol kejadian," aku Dadan dalam keterangan di laman Badan Gizi Nasional.

BACA JUGA:Gulai dengan Ciri Khas Minangkabau yang Perbandingan Daging dan Lemak 1:3

BACA JUGA:Hati-hati, Selain Hambat Kecerdasaan Anak Gangguan Pencernaan Bisa Hambat Tumbuh Kembang Anak

Sebagai langkah korektif, BGN membatasi kapasitas layanan SPPG agar operasional dapur tetap aman dan terkendali. Selain itu, seluruh SPPG diwajibkan menggunakan rapid test untuk memastikan bahan baku dan hasil masakan memenuhi standar kelayakan konsumsi. 

"Sehingga kita akan tahu bahan bakunya baik atau tidak, kemudian hasil masakannya apakah layak dikonsumsi atau tidak,” jelas Dadan.

Upaya penguatan keamanan juga dilakukan melalui kewajiban sterilisasi food tray dengan standar higienis serta penggunaan air bersertifikat, baik air dalam kemasan maupun air isi ulang dengan fasilitas yang telah lolos sertifikasi. 

Kata Dadan, kebijakan ini memastikan proses memasak dan pencucian berjalan seragam di seluruh daerah.

 BACA JUGA:Banyak Belum Tahu Manfaatnya, Kulit Jeruk Baik untuk Pencernaan dan Kaya Serat

BACA JUGA:Jangan Sepelekan Gangguan Pencernaan pada Anak Karena Bisa Hambat Perkembangan Otak

BGN juga mencatat bahwa sejumlah insiden dipicu gangguan teknis, termasuk keterlambatan konsumsi makanan di lapangan. 

"Ada juga yang pada saat kegiatan itu ada gangguan-gangguan teknis… misalnya ketika dia kirim makanan ke satu sekolah harusnya dimakan jam 10 ternyata dimakan jam 12,” ungkap Dadan. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan