Psikolog : Reward Boleh Diberikan pada Anak, Tapi Jangan Jadi Kebiasaan

Psikolog Tiara Erlita, M.Psi- Foto : Dok. TikTok Tiara Erlita-

LUBUK LINGGAU, KORANLINGGAUPOS.ID – Memberikan hadiah atau reward kepada anak sering dianggap sebagai cara efektif untuk menumbuhkan perilaku positif. 

Namun, menurut psikolog  Tiara Erlita, M.Psi, praktik ini perlu dilakukan dengan bijak agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap motivasi anak.

Tiara menjelaskan, wajar saja bila orang tua sesekali memberikan hadiah kecil, misalnya mainan, ketika anak berhasil membereskan mainannya sendiri. 

Reward semacam ini bisa menjadi penguat perilaku baru yang sedang dilatih. “Anak merasa dihargai atas usahanya, sehingga ia terdorong untuk mengulang perilaku baik tersebut,” ujarnya.

 

Namun, Tiara mengingatkan bahwa jika reward diberikan terlalu sering, anak bisa terbiasa melakukan sesuatu hanya karena ada imbalan. “Motivasi intrinsik atau dorongan dari dalam dirinya akan berkurang. Anak bisa mulai menuntut lebih banyak hadiah setiap kali ia patuh atau melakukan hal baik,” jelasnya.

Menurut Tiara, pola ini dapat membuat anak berkata, “Kalau aku nurut, hadiahnya apa?” yang menunjukkan bahwa perilaku baiknya bergantung pada imbalan. Jika dibiarkan, anak bisa kehilangan kesadaran bahwa berbuat baik adalah tanggung jawab, bukan transaksi.

“Reward yang terlalu sering justru bisa menumbuhkan sikap materialistis dan ketergantungan. Anak belajar bahwa setiap usaha harus dibayar dengan sesuatu yang nyata, padahal dalam kehidupan, banyak hal baik dilakukan tanpa imbalan,” kata Tiara.

Meski begitu, Tiara menegaskan bahwa reward bukanlah hal yang salah. Sesekali, terutama untuk menguatkan perilaku baru, hadiah boleh diberikan. Namun, orang tua jangan melupakan bentuk apresiasi lain yang lebih mendalam.  

 

“Pujian yang tulus, pelukan hangat, atau sekadar ucapan ‘Aku bangga sama kamu, Kak’ bisa menjadi reward yang jauh lebih berharga,” jelas Tiara.

Reward emosional seperti pelukan dan kata-kata positif terbukti menambah motivasi anak secara lebih sehat. Anak belajar bahwa kebahagiaan orang tua dan rasa bangga adalah bentuk penghargaan yang bernilai tinggi.

Tiara menekankan bahwa keseimbangan adalah kunci. Reward boleh digunakan sebagai strategi mendidik, tetapi jangan sampai menjadi kebiasaan utama. 

Orang tua perlu menanamkan motivasi intrinsik, agar anak terbiasa melakukan hal baik karena kesadaran, bukan sekadar imbalan. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan