Masuki Bulan Rajab, Kyai Misbahul Arifin Ajak Umat Perbanyak Ibadah Sunah
Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Musi Rawas sekaligus Mustasyar PCNU Kabupaten Musi Rawas, Kyai Misbahul Arifin.--
KORANLINGGAUPOS.ID - Bulan Rajab 1447 Hijriah resmi dimulai pada Minggu, 21 Desember 2025 dan akan berlangsung hingga 19 Januari 2026. Hal tersebut merujuk pada Kalender Hijriah Indonesia 2025 terbitan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI).
Laporan Mukmin Hidayat, Musi Rawas
BULAN Rajab merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam dan menjadi momentum bagi umat Muslim untuk meningkatkan amalan ibadah, termasuk puasa sunah.
Mengutip laman jatim.nu.or.id, puasa Rajab disunnahkan selama masih berada di bulan tersebut, namun makruh apabila dilakukan secara penuh selama satu bulan. Dianjurkan agar puasa Rajab dilakukan pada hari-hari utama, seperti ayyâmul bîdh (tanggal 13, 14, dan 15), serta pada hari Senin, Kamis, dan Jumat.
Alternatif lainnya, puasa juga dapat dilaksanakan dengan pola satu hari berpuasa dan satu hari tidak, sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali dalam Ihyâ ‘Ulumiddîn juz 3 halaman 432.
Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Musi Rawas sekaligus Mustasyar PCNU Kabupaten Musi Rawas, Kyai Misbahul Arifin, menyampaikan bahwa amalan-amalan sunah, termasuk puasa Rajab, memiliki keutamaan yang luar biasa.
Menurutnya, umat Islam tidak perlu terlalu fokus memilih-milih amalan sunah tertentu. Yang terpenting adalah melaksanakan amalan yang mampu dijalani secara istiqomah.
“Amalan sunah itu banyak, seperti puasa Senin-Kamis, salat malam, dan lainnya, termasuk di bulan Rajab. Tidak usah terlalu memilih ini dan itu, lakukan saja mana yang bisa dijalankan secara konsisten, itulah yang terbaik,” ungkapnya.
Ia menambahkan, bulan Rajab hanya datang setahun sekali, sehingga menjadi kesempatan berharga untuk memperbanyak ibadah. Namun demikian, Rasulullah SAW menekankan bahwa amalan terbaik adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus dan konsisten.
“Istiqomah itu kuncinya. Misalnya rutin membaca Al-Qur’an setiap hari, bangun malam untuk salat malam, atau berpuasa Senin-Kamis. Itu lebih utama daripada amalan besar tapi hanya dilakukan sesekali,” jelasnya.
Kyai Misbahul juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara utuh dari awal hingga akhir, dan setiap bagiannya memiliki keistimewaan masing-masing. Oleh karena itu, ia menganjurkan umat Islam untuk membiasakan diri membaca Al-Qur’an secara rutin tanpa harus memilih-milih bagian tertentu.
“Lakukan ibadah yang memungkinkan untuk dijalankan secara istiqomah. Itulah bentuk cinta dan kesungguhan kita dalam beribadah,” tegasnya.