Kenali Job Hugging, Bertahan di Pekerjaan Meski Tak Bahagia

Tanpa disadari, Job Hugging dapat menimbulkan kelelahan dan tekanan emosional.--

KORANLINGGAUPOS.ID - Kondisi ketika seseorang memilih bertahan di pekerjaan yang sama meskipun sudah tidak lagi merasa bahagia, berkembang, atau termotivasi. Waspadai, itu Job Hugging

ASAL Kalian ketahui, tanpa disadari, kebiasaan ini dapat menimbulkan kelelahan dan tekanan emosional.

Meski terlihat sebagai pilihan aman, job hugging bukanlah kondisi tanpa konsekuensi. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat berdampak pada kesejahteraan mental karyawan sekaligus memengaruhi produktivitas dan dinamika perusahaan.

Dikutip dari alodokter, ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya job hugging di kalangan profesional muda.

 BACA JUGA:Meninggal Hingga Tidak Lagi Aktif Bekerja, 12 Orang PPPK Paruh Waktu di Lubuk Linggau Tidak Bisa Dilantik

BACA JUGA:Lantik 14 Pejabat Penting, Bupati : Selamat Bekerja, Kita Harus Membangun Musi Rawas Dalam Kondisi Apapun

Pertama, disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi dan pasar kerja. Kondisi ekonomi yang naik-turun dan sulitnya mencari pekerjaan baru membuat banyak orang memilih bertahan di pekerjaan saat ini. Akibatnya, mereka tetap berada di pekerjaan yang tidak memuaskan demi menjaga kestabilan finansial.

Kedua disebabkan karena takut gagal beradaptasi di lingkungan baru. Kekhawatiran tidak mampu menyesuaikan diri atau memenuhi ekspektasi di tempat kerja baru sering menjadi penghambat. Hal ini membuat karyawan enggan mengambil risiko perubahan, meskipun peluang baru mungkin lebih menjanjikan.

Selanjutnya, disebabkan beban hidup sehari-hari, cicilan, dan tanggung jawab keluarga menuntut stabilitas penghasilan. Sebagai akibatnya, banyak anak muda lebih memilih bertahan di zona nyaman daripada mencoba pekerjaan baru yang belum pasti.

Keempat, keraguan terhadap kemampuan diri sendiri atau takut gagal saat menghadapi tantangan baru dapat menahan seseorang untuk berpindah pekerjaan. Dampaknya, mereka tetap berada di pekerjaan yang tidak lagi memuaskan, meski sadar potensinya tidak berkembang.

 BACA JUGA:Bekerjasama dengan Polres Lubuk Linggau, DPD LDII Gelar Penyuluhan Kamtibmas dan Kepatuhan Hukum

BACA JUGA:Bupati Muratara Ingatkan ASN untuk Tanggung Jawab dalam Bekerja

Kelima, tekanan sosial dan keluarga juga jadi penyebabnya, Pandangan masyarakat atau keluarga yang menilai sering berpindah kerja sebagai tanda kurang loyal atau gagal karier sering menjadi tekanan tambahan. Tekanan sosial ini membuat tidak sedikit orang memilih bertahan pada pekerjaan tersebut untuk menjaga reputasi.

Job Hugging juga berdampak negatif. Diantaranya, fokus mudah terpecah dan produktivitas menurun drastis, sehingga pekerjaan terasa berat setiap hari. Kelelahan mental dan fisik atau burnout. Kreativitas menipis, ide-ide baru jadi sulit muncul. Keterampilan stagnan, sehingga kesempatan naik jabatan atau berkembang makin sempit. Risiko gangguan mental meningkat, seperti gangguan kecemasan atau depresi, jika mengabaikan ketidakbahagiaan dalam waktu lama.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan