AI-like, Siapa Takut?

Dr. Susyanto Tunut - Dosen Prodi Kewirausahaan Universtas PGRI Silampari - Foto: Dok. Pribadi-

AI like dan Bahasa Akademik

Masalahnya, sebagai akademisi terbiasa menulis secara baku.  Apakah ini rentan AI like?Dan di sinilah dilema paling menarik muncul.Jawaban jujurnya? Iya, tulisan yang terlalu baku, terstruktur, dan terlalu sempurna — meskipun murni kamu tulis sendiri — bisa terdeteksi sebagai “AI-like”. Bahkan jika kamu tidak menggunakan AI sama sekali.

Kenapa Gaya Baku Rentan Terdeteksi “AI-like”? Ini dikarenakan AI belajar dari jutaan tulisan baku dan formal — seperti artikel, jurnal, dan ensiklopedia — jadi: (a) Gaya tulisan baku = gaya tulisan AI; (b) Kalimat panjang, logis, netral, tidak emosional = sangat “model-friendly”; dan (c) Tidak ada kesalahan manusiawi seperti jeda aneh, frase ambigu, atau kalimat terpotong

Ironisnya, semakin baik kamu menulis secara akademik atau profesional, semakin besar kemungkinan tulisanmu ditandai sebagai “AI-like” oleh detektor berbasis statistik.Bahkan ada kasus mahasiswa yang:Nulis skripsi sendiri dengan struktur akademik yang rapi, lalu dituduh pakai AI oleh dosen karena “terlalu sempurna”.  Padahal memang dia jago nulis. 

Penelitian dari Stanford (2023) menunjukkan bahwa:“AI detectors frequently classify writing by non-native English speakers and formal academic writers as AI-generated due to stylistic rigidity and fluency.”

Bagaimana kalau kamu punya prinsip lebih suka AI like tinggi, karena naskah akademik, dibandingkan terpaksa merubah kalimat yang justru tidak menunjukkan maksud penulisan? Ini prinsip yang sangat sah dan valid secara akademik — bahkan bisa dikatakan lebih disiplin secara logika ilmiah.Kenapa sah menjaga gaya “AI-like” untuk Naskah Akademik?Pertama, AI-like tidak sama dengansalah, justru terkadang ideal.  Kedua, Teks yang terdeteksi “AI-like” sering kali terlalu rapi, terstruktur, dan netral—dan ini bukan kelemahan untuk penulisan akademik. Bahkan, gaya seperti ini adalah ciri khas artikel ilmiah, jurnal Scopus, dan disertasi.Struktur kalimatnya yang bersih, non-emosional, dan berbasis logika memenuhi prinsip-prinsip objektivitas ilmiah.Dengan kata lain, jika tulisanmu terasa AI-like, itu bisa berarti kamu menulis dengan sangat baik dan sesuai standar akademik tinggi.

Jangan korbankan akurasi demi kesan “human”.  Karena, mengubah kalimat menjadi “lebih manusiawi” (retoris, kasual, reflektif) tidak selalu tepat dalam konteks naskah ilmiah. Jika perubahan itu membuat makna utama bergeser atau kehilangan ketajaman, maka lebih baik mempertahankan struktur aslinya.Prinsip utama penulisan ilmiah adalah kejelasan dan ketepatan makna, bukan gaya yang “terasa manusiawi”.

BACA JUGA:Opini : Urgensi Transformasi Guru di Tengah Adaptasi Perubahan Kurikulum

BACA JUGA:Opini : Penamaan Brand Kuliner UMKM 2025

Jadi bagaimana solusinya?

1. Pertahankan gaya baku — tapi beri “jejak manusia”: Tambahkan sedikit gaya narasi atau refleksi, pertanyaan retoris, atau frasa subjektif seperti  “menariknya”, “patut dicatat”, “dalam praktiknya”

2. Gunakan kalimat yang tidak terlalu rata: Campur kalimat pendek dan Panjang. Hindari 100% simetri antarkalimat

3.Sisipkan pemikiran orisinal: AI bisa meniru gaya, tapi tidak bisa menciptakan pengalaman pribadi, intuisi reflektif, atau insight kontekstual lokal. Itu keunggulan manusiamu.

Kesimpulannya: menulis secara baku bukan kesalahan. Tapi dalam era deteksi AI, tulisan manusia yang terlalu sempurna bisa disangka buatan mesin.Kuncinya: bukan ubah jadi jelek, tapi tambahkan “ketidaksempurnaan manusiawi yang alami.”

Sebagai tips: (1) Jangan gunakan AI detector sebagai satu-satunya alat evaluasi; (2) Gunakan diskusi reflektif atau oral test untuk validasi keaslian pemahaman; (3) Kalau kamu pakai AI dalam menulis, edit dan personalisasi gaya kamu agar tidak “tercium” AI detector.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan