AI-like, Siapa Takut?
Dr. Susyanto Tunut - Dosen Prodi Kewirausahaan Universtas PGRI Silampari - Foto: Dok. Pribadi-
Coba lihat: Perubahan topik bertahap, linier, logis, tanpa loncatan personal.
Kembali ke isu awal: bisakah AI detector bisa mendetek AI-like? Atau meng-humanize teks?
Ya, secara teknis bisa dilakukan, tapi belum bisa dijadikan bukti absolut.Hasilnya hanya berupa probabilitas, bukan konfirmasi mutlak.
Kenyataannya, OpenAI sendiri menghentikan Text Classifier-nya (2023) karena akurasi rendah. Turnitin AI Detector sering dianggap over-detect dan menghasilkan kontroversi di lingkungan Pendidikan. Peneliti dari Princeton menyebut: “Deteksi AI adalah arms race yang tidak akan selesai — semakin baik detektor, semakin pintar modelnya beradaptasi.”
Cek similiritas seperti Turnitin, mungkin masih bisa di terima secara algoritmik. dengan cara kerja membandingkan tulisan dengan teks yang sudah dikenali sebelumnya dan terpublis secara terkanalisir melalui web, atau jurnal. Tapi utk produk tulisan lain, apa justifikasi Cek AIlike?
Pertanyaan ini menyentuh fondasi epistemologis dan etis dari fenomena “AI detection”. Dan benar: algoritma similarity checker seperti Turnitin dan AI checker seperti GPTZero bekerja dengan prinsip dan justifikasi yang berbeda secara fundamental.
Berdasarkan cara kerjanya Cek Similaritas (Turnitin dan semacamnya) dengan : (1) Membandingkan tulisan kamu dengan database raksasa yang berisi:Artikel jurnal, repository, situs web, publikasi pendidikan, laporan, dll; (2) Algoritma mencari kemiripan frasa, struktur kalimat, urutan ide; (3) Output-nya berupa: berapa persen teks kamu mirip dengan teks yang sudah ada.
Dengan demikian Cek Similaritas memiliki Justifikasi Akademik, karena: berbasis sumber aktual dan tertelusur, bisa dilacak secara forensik, ada bukti dokumen pembandingnya, dan tujuannya: plagiarisme, bukan orisinalitas ide.
Sementara, Cek AI / AI Content Detection, cara Kerjanya adalah: tidak membandingkan dengan sumber eksternal, hanya menganalisis pola bahasa: seberapa “AI-like” suatu tulisan menurut model statistik, tidak bisa menunjukkan “ini mirip dengan teks dari sumber X”, dan Outputnya berupa: probabilitas bahwa teks ini dihasilkan AI, tanpa bukti eksplisit.
Kalau demikian, apa Justifikasi Deteksi AI? Untuk saat ini, justifikasi deteksi AI bukan forensik atau hukum, melainkan: (1) Kepentingan etis dan integritas akademik ( menjaga orisinalitas pemikiran, bukan hanya bentuk tulisan; (2) Alat bantu evaluasi awal (Memberi sinyal kepada dosen/guru bahwa naskah ini patut dikaji lebih lanjut, bukan otomatis disalahkan); dan (3) Indikasi gaya tulisan, bukan bukti plagiarisme (Tidak bisa disamakan dengan “copy-paste dari jurnal”)
Analoginya:Cek Similaritas seperti CCTV yang menangkap kamu menyalin dari buku, sedangkan, Cek AI seperti detektif yang curiga kamu terlalu lancar menjawab — tapi tidak punya rekaman.
Jadi dapat disimpulkan, Cek similarity memilikijustifikasi kuat secara hukum, akademik, dan bukti literal, sementara Cek AI hanya indikator dugaan berbasis pola bahasa, belum bisa dijadikan bukti valid tanpa konfirmasi tambahan.
Suatu teks yang dihasilkan oleh LLM (ChatGPT), secara teknis:struktur kalimatnya sangat rapi, gaya bahasanya konsisten, netral, dan informatif, ada ritme pola “kalimat pembuka”,kemudian“isi”, lalu “kesimpulan” yang khas LLM, terakhir, jarang (bahkan hampir tidak ada) kesalahan ketik, logika, atau gaya manusiawi seperti ‘ragu-ragu’ atau ‘loncat berpikir’
BACA JUGA:Opini: Membaca Kecenderungan Arah Kebijakan Kepemimpinan Yok-Terus 2025-2030
BACA JUGA:Opini : Pentingnya Menjaga Lingkungan untuk Kesehatan Hidup Sehat