Waspada Peningkatan Kasus DBD, Jangan Lupa Terapkan 3M Plus
Petugas Dinkes Kota Lubuk Linggau melakukan Fogging di wilayah RT 5 Kelurahan Simpang Periuk belum lama ini-Foto : Dok Dinkes Kota Lubuk Linggau-
LUBUK LINGGAU, KORANLINGGAUPOS.ID - Memasuki musim kemarau, Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuk Linggau melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengimbau masyarakat untuk waspada penularan Demam Berdarah Dengue (DBD).
Pasalnya data Dinkes Lubuk Linggau, ada kenaikan kasus DBD di April 2025. Di Januari terdata ada 44 kasus DBD, Februari ada sedikit penurunan ada 34 kasus DBD.
Sepanjang Maret 2025 pasien DBD kembali mengalami penurunan ada 29 kasus, namun sepanjang April 2025 pasien DBD mengalami kenaikan ada 32 kasus.
"Dan bulan ini, hingga pertengahan Mei pasien DBD sudah ada 19 orang. Total dari Januari hingga sekarang ada 158 pasien DBD. Untuk itu kita mengimbau agar masyarakat tetap waspada dan jaga kebersihan lingkungannya agar terhindarari penularan DBD," ungkap Plt Kepala Dinkes, Erwin Armeidi saat dibincangi KORANLINGGAUPOS, Sabtu 17 Mei 2025.
BACA JUGA:20 Mei 2025 JCH Lubuk Linggau dan Muratara Terbang ke Arab Saudi, Waspadai Heat Stroke
BACA JUGA:Waspada Mata Alami Stres, Lakukan Hal ini Untuk Pencegahan
Dinas Kesehatan Kota Lubuk Linggau tegasnya, terus mengimbau masyarakat untuk aktif melakukan langkah-langkah pencegahan DBD dengan menerapkan prinsip 3M Plus, yaitu Menguras, membersihkan tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, drum, toren air, dan sejenisnya secara rutin. Menutup rapat wadah-wadah air agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Mengubur atau membuang barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan. Serta Plus, yakni melakukan upaya tambahan seperti menggunakan obat nyamuk, memasang kelambu saat tidur, dan fogging di area yang terdeteksi sebagai lokasi kasus.
“Fogging itu berfungsi untuk membunuh nyamuk dewasa, tapi jentik-jentik nyamuk tidak akan mati dengan cara ini. Maka dari itu, gerakan 3M sangat penting untuk memutus siklus hidup nyamuk penyebab DBD. Makanya foging dilakukan ketika diwilayah atau dirumah tersebut ada pasien DBD,” jelas Erwin.
Ia juga menekankan masyarakat yang mendeteksi adanya kasus DBD di lingkungannya sebaiknya segera melaporkan ke pihak Dinas Kesehatan. Setelah itu, tim akan melakukan fogging di lokasi tersebut sebagai tindakan cepat untuk membasmi nyamuk dewasa dan mencegah penyebaran lebih lanjut.
Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Penyebab DBD adalah virus dengue yang ditularkan kepada manusia melalui nyamuk Aedes aegypti. Ketika nyamuk tersebut menggigit manusia, virus masuk ke dalam tubuh manusia. Nyamuk Aedes aegypti umumnya berukuran kecil dengan tubuh berwarna hitam pekat, memiliki dua garis vertikal putih di punggung dan garis-garis putih horizontal pada kaki. Nyamuk ini aktif terutama pada pagi hingga sore hari, meskipun kadang-kadang mereka juga menggigit pada malam hari. Mereka lebih sering ditemukan di dalam rumah yang gelap dan sejuk dibandingkan di luar rumah yang panas.
BACA JUGA:Rencana Prabowo Hapus Outsourcing Tuai Polemik, Pengusaha Waspadai PHK Massal
Faktor risiko seseorang terkena demam berdarah dengue antara lain tinggal atau bepergian ke daerah tropis. Tinggal atau berada di daerah tropis dan subtropis meningkatkan risiko terkena virus dengue. Daerah yang berisiko meliputi Asia Tenggara, pulau-pulau di Pasifik Barat, Amerika Latin, dan Afrika. Selain itu, memiliki riwayat terinfeksi virus dengue sebelumnya juga meningkatkan risiko mengalami gejala yang lebih parah ketika terkena DBD. Usia di bawah 15 tahun juga memiliki risiko lebih tinggi terkena demam dengue dan demam berdarah dengue.
Gejala utamanya diawali demam mendadak yang tinggi, mencapai suhu hingga 39 derajat celsius. Demam ini berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari, kemudian turun dengan cepat. Gejala lain yang biasanya terjadi adalah nyeri kepala, menggigil, lemas, nyeri di belakang mata, otot, dan tulang, ruam kulit kemerahan, kesulitan menelan makanan dan minuman, mual, muntah, gusi berdarah, mimisan, timbul bintik-bintik merah pada kulit, muntah darah, dan buang air besar berwarna hitam. Pada fase kritis penyakit ini, suhu tubuh menurun dan tubuh terasa dingin, meskipun penderita mungkin merasa seperti sudah sembuh. Namun, pada fase ini perlu waspada karena dapat terjadi sindrom syok dengue yang dapat mengancam jiwa.