POLEMIK SELEKSI TERBUKA LELANG JABATAN SEKRETARIS DPRD KOTA LUBUKLINGGAU

Kurniawan Eka Saputra, S.Sos, SH, MH, CLD-Foto : Dok Pribadi -
KORANLINGGAUPOS.ID - Di tengah proses lelang seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Kota Lubuk Linggau tahun 2025 sebagaimana pengumuman No. 800/02/Pansel-JPTLLG/2025, - dengan membuka seleksibagi 8 (delapan) posisi JPT Pratama – muncul ‘polemik di media massa’ antara eksekutif dan legislative.
Setidaknya jika kita menyimak berita harian local Linggau Pos Edisi Sabtu (22 Februari 2025) dan Selasa (25 Februari 2025), secara khusus terkait dengan seleksi terbuka JPT Pratama pada Sekretaris DPRD Kota Lubuk Linggau.
Pihak eksekutif melalui Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber daya Manusia (BKPSDM) menyampaikan argumentasi dasar hukum dari proses rekruitmen, pun demikian Ketua DPRD Kota Lubuklinggau juga mengutip regulasi terkait bagaimana proses seleksi terbuka JPT Pratama pada sekretaris DPRD yang berbeda dengan OPD lain.
Mulai dari polemic eksekutif dan legislative tersebut, secara spesifik berkaitan dengan bagaimana secara khusus rekruitmen dan seleksi JPT Pratama Sekretaris DPRD pengaturannya harus melalui ‘konsultasi dan persetujuan’ DPRD.
BACA JUGA:Opini : Terjebak dalam Labirin Pikiran: Kenapa Overthinking Semakin Menghantui?
BACA JUGA:Opini: Wujudkan Buah Hati Menjadi Generasi Emas Sejak Dini
Lalu bagaimana sebenarnya dasar hukum dari rekruitmen dan seleksi jabatan sekretaris DPRD ?
DASAR HUKUM PENGATURAN DAN PROSEDUR REKRUITMEN
Sebagaibagian dari komitmen pendidikan publik (public education), tulisan ini mencoba melakukan tracking terhadap bagaimana sebenarnya mekanisme dan prosedurter kaithal tersebut. Pengangkatan Sekretaris DPRD diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan, di antaranya adalah :
1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, terutama dalam Pasal 205 ayat (2) menegaskan bahwa ‘Sekretaris DPRD diangkat dan diberhentikan oleh Gubernuratau Bupati/Walikota atas persetujuan DPRD’. Artinya, pengaturan undang-undang sebagai rujukan dari proses seleksi jabatan sekretaris DPRD sudah secara letterlijk menyatakan harus adanya Persetujuan DPRD.
2. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah pada Pasal 32 mengaturbahwa ‘pengangkatan Sekretaris DPRD harus memperhatikan kualifikasi, kompetensi, dan persetujuan DPRD’. Frasatentang ‘Persetujuan DPRD’ lagi-lagi tercantum secara jelas dalam amanat PP, agar ada ruang dari persetujuan DPRD.
3. Surat Edaran (SE) Menteri DalamNegeri Nomor 120/713/OTDA Tahun 2019, dimana surat edaran ini menegaskan bahwa ‘pengangkatan Sekretaris DPRD tidak hanya menjadi kewenangan Kepala Daerah, tetapi harus melalui mekanisme konsultasi dan persetujuan DPRD guna menjaga keseimbangan kekuasaan dan transparansi dalam pemerintahan daerah’. Sebagai bagian dari petujuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) dari UU/PP, SE diatas secara lebih rigid menjelaskan tentang pembagian kewenangan antara kepala daerah dengan DPRD terkait pengangkatan sekretaris DPRD. Tetapi juga memberikan penjelasan mengenai subtansi tujuan dari konsultasi dan persetujuan dengan DPRD yaitu untuk menjaga keseimbangan kekuasaan dan transparansi dalam pemerintah daerah.
BACA JUGA:Opini: Membaca Kecenderungan Arah Kebijakan Kepemimpinan Yok-Terus 2025-2030
BACA JUGA:Opini : Pentingnya Menjaga Lingkungan untuk Kesehatan Hidup Sehat