Dinkes Lubuk Linggau Ingatkan Masyarakat Pasien ODGJ Butuh Support Keluarga
Subkoord P2PTM Keswa Napza Dinkes Lubuk Linggau, Wahyu Romainah, SST - Foto : YUNITA RAHMAWATY/Linggau Pos-
LUBUK LINGGAU, KORANLINGGAUPOS.ID – Pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang paling banyak ditemui saat ini di Lubuk Linggau adalah Skizofrenia. Terdata di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lubuk Linggau pasien dengan gangguan Skizofrenia saat ini sebanyak 392 orang.
Data ini disampaikan Plt Kepala Dinkes Kota Lubuk Linggau Erwin Armeidi melalui Kabid P2P Lena Agustini didampingi Subkoord P2PTM Keswa Napza, Wahyu Romainah, SST saat dibincangi KORANLINGGAUPOS.ID, Selasa 20 Mei 2025.
Skizofrenia sendiri jelasnya, gangguan mental kronis yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku. Penderita skizofrenia dapat mengalami halusinasi, delusi, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku yang signifikan.
Para pasien ditangani di puskesmas setempat dengan rawat jalan, namun jika pasien tersebut membutuhkan rujukan rawat inap, pasien akan dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa yang ada di Palembang dan Bengkulu.
BACA JUGA:Warga Ngeluh Ada Nakes Kurang Ramah Layani Pasien, Begini Himbauan Plt Kepala Dinkes Lubuk Linggau
BACA JUGA:Punya Tunggakan Iuran BPJS, Dinkes Lubuk Linggau Siap Alihkan ke Segmen Iuran Ditanggung Pemerintah
Saat ini program yang disediakan oleh Dinas Kesehatan untuk penanganan ODGJ yaitu edukasi ke keluarga dan pasien, edukasi mengenai gejala serta penanganannya, seperti obat yang harus dikontrol, kemudian kebutuhan makanan dan tempat tinggal yang layak dan support keluarga.
"Saat ini karena ada keluarga yang menganggap ODGJ itu hal yang malu dan harus diasingkan, padahal kebutuhannya sama. Justru pasien ODGJ lebih banyak butuh perhatian, karena banyak ODGJ yang sudah sehat dan terkontrol tapi tidak diterima di masyarakat jadi kambuh lagi, nah ini lebih susah,” tegasnya.
Dinas Kesehatan juga melakukan screening ke masyarakat, keluarga dan sekolah.
Hal ini bertujuan untuk memberi edukasi sedini mungkin dan mendeteksi faktor resiko masalah jiwa, karena masalah jiwa bukan hanya ODGJ tetapi terdapat juga seperti gangguan mental, emosional yang jika tidak ditangani atau diantisipasi bisa menjadi gangguan jiwa.
BACA JUGA:Peserta BPJS Kesehatan Mandiri Punya Tunggakan Iuran, Begini Solusinya Kata Dinkes Lubuk Linggau
Ia mengungkapkan, tantangannya ada keluarga yang masih butuh support, namun jika mengandalkan nakes, tentu terbatas. Jadi juga butuh support keluarga dan masyarakat sekitar dan lintas sektor terkait, melalui hal ini masalah atau tantangan dapat teratasi.
“Diharapkan keluarga itu tetap support, karena ODGJ itu tinggal dikeluarganya, Nakes itu hanya membantu keluarga untuk mengembalikan atau memfungsikan lagi ODGJ untuk kembali sehat dan berfungsi kembali ke masyarakat dan masyarakat tolong diterima kembali,” tambahnya.