Angkringan, Simbol Kehangatan dan Kesederhanaan di Tengah Kota Lubuk Linggau
Angkringan di Lubuk Linggau, tempat berkumpul dan bersantai dengan hidangan sederhana- Foto : Rini Junita Sari / Linggau Pos-
LUBUK LINGGAU, KORANLINGGAUPOS.ID - Di tengah menjamurnya kafe modern dan restoran cepat saji yang menyasar generasi muda, angkringan tetap menjadi tempat favorit berbagai kalangan untuk berkumpul, makan, dan bersantai.
Warung sederhana yang identik dengan gerobak kayu dan lampu temaram ini masih bertahan sebagai simbol kehangatan dan kesederhanaan dalam budaya masyarakat Kota Lubuk Linggau dan sekitarnya.
Angkringan bukan sekadar tempat makan. Ia adalah ruang sosial di mana orang dari berbagai latar belakang bisa berkumpul tanpa sekat. Mulai dari mahasiswa, pegawai kantoran, tukang becak, hingga wisatawan asing, semuanya bisa duduk bersisian menikmati hidangan murah meriah seperti nasi kucing, sate usus, gorengan, martabak dan segelas kopi yang disajikan dengan arang panas.
Anggi salah satu owner angkringan di kawasan Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Majapahit, Kecamatan Lubuk Linggau Timur I, Kota Lubuk Linggau, Provinsi Sumatera Selatan, Ia mengatakan bahwa meski zaman sudah berubah, pelanggan setianya tetap datang setiap malam. “Sekarang sudah banyak tempat ngopi modern, tapi angkringan punya suasana yang beda. Di sini ngobrolnya ngalir, nggak ada batas,” ujarnya saat diwawancarai KORANLINGGAUPOS.ID, Rabu 11 Juni 2025.
BACA JUGA:Angkringan Pisek Kite Musi Rawas : Sajian Kuliner dan Keindahan Alam yang Berpadu
BACA JUGA:Sepi Pembeli dan Lokasi Kurang Strategis, Pasar Jangkrik Resmi Tutup Sejak 2020
Selain makanan dan minuman, daya tarik utama angkringan adalah suasananya. Dengan bangku panjang dan lesehan sederhana, angkringan memberikan ruang untuk berinteraksi bebas. Tak jarang, percakapan serius hingga obrolan ringan terjadi di antara orang-orang yang baru saja saling kenal di tempat itu.
Dalam beberapa tahun terakhir, konsep angkringan mengalami perkembangan. Beberapa pengusaha muda mengadopsi gaya angkringan dan menggabungkannya dengan konsep modern. Muncul angkringan kreatif dengan menu kekinian seperti nasi kucing keju, kopi susu gula aren, dan desain interior yang lebih estetik. Meski demikian, esensi angkringan sebagai tempat nongkrong murah dan santai tetap dipertahankan.
Di tengah tantangan zaman dan perubahan gaya hidup masyarakat, keberadaan angkringan membuktikan bahwa warisan budaya bisa tetap hidup dan beradaptasi. Banyak komunitas dan pegiat budaya bahkan mendorong pelestarian angkringan sebagai bagian dari identitas lokal.
Angkringan itu bukan hanya soal makanan. Ini bagian dari gaya hidup, dari cara kita berinteraksi. Harus dijaga,” tegas Anggi sebelum kembali sibuk melayani pelanggan yang mulai memadati gerobaknya menjelang malam.
BACA JUGA:Sekali Panen Warga Tegalrejo Musi Rawas Hasilkan Ratusan Kilo Jangkrik
BACA JUGA:Angkringan Sugeng Rawuh Tempat Nongkrong Seru dengan Kuliner Menggoda
Harga yang ditawarkan di angkringan Anggi juga sangat terjangkau mulai dari Rp 5 ribu, kalian sudah bisa menikmati suasana malam, di angkringan Anggi.
Angkringan Anggi buka setiap hari, mulai pukul 19.00 WIB sampai dengan pukul 00.00 WIB.