Menjadi Tak Berdosa: Pendidikan, Jiwa, dan Kejernihan yang Tak Terluka
Dr. Donni Peztalozi, M.Pd.-Foto: Dokumen Pribadi. -
KORANLINGGAUPOS.ID-Pendidikan sejati bukan tentang siapa yang paling cerdas, tetapi siapa yang paling jernih. “The word ‘innocence’ means a mind that is incapable of being hurt.”
Sebuah pikiran yang tak terluka bukan karena ia kebal terhadap penderitaan, melainkan karena ia tak lagi menyimpan luka sebagai identitas.
1. Di Balik Pencapaian yang Kita Kejar
Kita hidup di masa ketika pendidikan sering disamakan dengan perlombaan. Nilai tinggi, ranking, akreditasi, sertifikasi—semuanya menjadi tolok ukur keberhasilan. Namun di tengah semua ambisi itu, jarang kita bertanya: Apakah kita benar-benar belajar memahami diri sendiri?
BACA JUGA:Transformasi Pendidikan di SDN 55 Lubuk Linggau Melalui Pembelajaran Mendalam
Kita menjadi generasi yang pandai berpikir, tapi mudah terluka.
Sedikit kritik bisa mengguncang harga diri, sedikit kegagalan bisa membuat kita merasa hancur. Pikiran yang seharusnya tumbuh justru terjebak dalam kepicikan—dalam keinginan untuk diakui, dalam ketakutan akan kalah.
Padahal, pendidikan sejati tidak bertujuan mencetak manusia yang tak pernah gagal, melainkan manusia yang tak mudah hancur oleh kegagalan.
2. Kepicikan dan Luka yang Kita Pelihara
BACA JUGA:Melaksanakan Pembangunan Pendidikan Amanah UUD Tahun 1945
BACA JUGA:Gelar Pendidikan Dasar Bela Negara, Medco E&P Bangun Jiwa Kepemimpinan Bagi Pelajar
Kepicikan (pettiness) membuat hati sempit dan pikiran dangkal. Ia muncul ketika kita mulai melihat dunia hanya sebagai cermin bagi ego kita. Kita belajar untuk menonjol, bukan untuk memahami. Kita berusaha menjadi “yang paling” dalam segala hal, hingga lupa menjadi “yang tulus.”
Kepicikan seperti inilah yang diam-diam melahirkan luka batin. Bukan luka karena disakiti orang lain, tapi luka karena kehilangan makna hidup. Semakin kita mengejar pengakuan, semakin kita menjauh dari ketenangan yang sesungguhnya.
3. Makna Sejati “Innocence”
Di sinilah muncul kata yang jarang dibahas dalam dunia pendidikan: innocence.
BACA JUGA:30% Anggaran Pendidikan untuk MBG